Thursday, August 7, 2008

SKDD

Malam kurasakan….
Kian pekat….kian gelap..
Akupun terdiam
Mengapa?

Aku hanya ingin bersandar
Bertumpu pada harap…yang menyelimutiku

Kukira….
Siang tadi…
Kala mendung
Kala kamu berkata
“ Aku telah duduk disamping mu “
Kukira….
Segalanya berputar kembali ke awal
Namun…..
Ternyata…..semua semakin jaun meninggalkanku




June 2nd 02

To : my best friend Sarman

Entah Sengaja Atau Tidak

18 june 2002


Cakrawala tengah cerah.
Entah sengaja atau tidak
Kamu memalingkan wajah
Mungkin sengaja mungkin tidak

Angin berhembus ceria
Entah sengaja atau tidak
Kamu beranjak
Sengajakah? Atau tidak?



Buat : sahabat ku terkasih
Jika aku sempat bertanya…coba cerna
Jika tak sempat….coba cerna juga…
Lewat ketegangan yang ada sekarang…
Satu hal yang kita dapat…
Kita sama-sama tak salah….

Jaga

11 mei 2002


Kutatap….
Diantara pepohonan…
Rimbun…diantara rimba mu
Sekelabat bayangan…
Melintas di sisi-sisi daun

Mungkin saja tembok sekejap hancur
Minggirlah….
Puing-puing nya akan menerpa wajah mu…
Aku tak ingin kamu kesakitan
Mengaduh bukan suaramu

Mungkin saja kapal itu tenggelam
Terbanglah….
Kamu akan hanyut…
Aku tak ingin nafasmu tak bersisa

Jangan musnah…tanpa aku…

Saturday, August 2, 2008

Ketika aku datang

13 mei 2002


Walau jauh….

Biar kucoba berjalan saja…

Meski sulit…

Akan kulakukan…


Kalau kugedor pintu itu

Tolong buka..


Saat ku tiba….

Kuteriak lantang…sudah

Kuketuk pintu…sudah

Kuintip jendela…sudah


Dimana kamu?

Aku tak melihat

Kini…ternyata…

Kamu bohong!

Kamu ingkar!


Terima kasih, kawan…


Still be waiting for me at TOEMBAL Basecamp Panyiwi 01


DERIK

KUBERLARI….KE ANTARA MU

LAJUKU HANYA MELAYANG

KUUSAP….BERCAK TAK BERWARNA ITU

KAU DIAM….

SOSOKMU TAK BERGEMING


RAYAP-RAYAP DI RANTING

BERHAMBURAN…

KU TELUSURI HATIMU…

BIAR…

KAU BIARKAN SAJA


BIARKAN RANTING ITU PATAH

AGAR AKU DENGAR DERIKAN

BIARKAN KERTAS-KERTAS ITU TERSERAK

SUPAYA SUNYI INI TERPECAH


NELANGSA INI… TAK TERHINDAR…



Buat : AnarkhysKu Yang Terdiam…..


" diantara terik

First day in june, 2002


Sungguh sulit…

Ketika berhadapan denganmu…

Sungguh sulit…


Adikku…

Melihatmu…

Basah ada padaku..

Peluh dintara terik

Tangis diantara sedih



Dik..

Kucoba bangkitkan kenangan

Tak satupun ku dapat.

Selain senyum yang gamang.


Adikku…

Kini..memutar ingatanmu saja

Aku tak sanggup

Apalagi..

Kembali pada kisah kita….



To : my sweetest little brother

Dimana Seharusnya Berada



Di tengah ilalang liar….

Riang berceloteh

Hinggap di putik….

Lalu terbang…

Tak peduli….segala

Di sekitar…


Kadang Mengerti….

Lalu lupa lagi…

Tapi ingin menggapai….

Slalu berkata :

Dimana Seharusnya Berada? “


20 juni 2002




Memiliki & Kehilangan


Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa masih memilikinya
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya
Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Oleh : Letto

Seorang sahabat pernah berkata padaku bahwa kita tak akan pernah merasa memiliki sesuatu sebelum semua itu hilang. Dahulu semua itu kutentang dan kutolak mentah-mentah ketika ia terus menerus mencecar aku dengan kalimat-kalimatnya itu. Aku berkata bagaimana bisa dia berkata demikian sementara saat itu aku sama sekali tak merasa kehilangan apapun. Berani sekali ia berkata seperti itu. Seperti ia tahu saja tentang apa yang akan terjadi padaku di masa depan. Ia malah tersenyum dan bilang, suatu saat, Wi. Kamu akan menyadarinya suatu saat. Kemudian setelah berkata itu ia berlalu begitu saja.
Aku tak pernah mengingat-ingat semua itu lagi karena aku meyakini semua itu hanya omong kosong. Kehidupanku kujalani tanpa masalah. Setelah meraih gelar sarjana desain komunikasi visual tidak lama aku diterima bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang advertising. Karirku tidak monoton. Baru 2 tahun bekerja aku sudah mendapat kepercayaan memegang salah satu posisi manager di perusahaan itu. Aku merasa puas-puas saja dengan apa yang sudah kuraih. Hal ini membuat aku semakin yakin bahwa aku tak pernah kehilangan apa-apa. Hidupku terasa sempurna..
Aku tak merasa kekurangan satu hal pun dalam hidupku. Aku lahir di keluarga dengan kedua orang tua yang tak hanya memberikan limpahan materi tapi juga kasih sayang. Tapi itu tak membuat aku menjadi orang yang manja dan tergantung pada semua itu. Itu mereka lakukan karena hanya aku satu-satunya tempat melimpahkan semua itu. Ditambah lagi sekarang ini aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung telah mendapatkan seorang laki-laki yang baik, dewasa, senantiasa membimbing dan selalu siap menjadi sandaranku. Meskipun aku dan dia dijodohkan oleh kedua orang tua kami itu tak menjadi masalah bagiku. Dan seminggu lagi kami bertunangan. Jadi apa yang bisa membuat aku merasa kehilangan sesuatu sementara semua yang kuinginkan sudah aku miliki sejak dulu.
Itu yang selalu kuyakini sampai sejam yang lalu. Aku meragukan keyakinan yang bertahun-tahun ada dalam diriku. Hanya karena sesuatu yang terjadi sekejap saja di depan mataku. Mungkin terdengar mustahil. Tapi itulah yang terjadi. Walau semua yang kudengar dari sahabatku itu tidak sepenuhnya benar. Tapi lebih dari itu. Aku merasa memiliki dan kehilangan di saat yang bersamaan yaitu setelah aku menemukannya kembali.

* * *

Dia bernama Putra. Putra Raevaldi lengkapnya. Bertahun-tahun yang lalu pernah hadir dan menjadi bagian dalam hidupku. Aku berstatus mahasiswa tingkat 4 saat aku mengenal dia. Lewat perkenalan yang tidak disengaja. Ia adalah adik sepupu dari teman satu jurusanku di kampus. Putra yang saat itu masih berstatus mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi swasta secara kebetulan mengambil jurusan yang sama denganku. Meski baru duduk di tahun pertama ia tergolong anak yang cerdas. Walaupun karakter kekanak-kanakannya juga sering muncul dan sekian banyak tingkah lakunya yang selalu mencoba mencari perhatian. Itu karena ia terlahir dari orang tua yang hanya memberinya materi namun lupa memberi kasih sayang dan perhatian. Kami lalu sering berdiskusi bersama. Dan sejak itu aku kerapkali melewati hari-hari bersamanya. Kedekatan yang tercipta karena kami sama-sama tidak memiliki saudara. Aku terlahir sebagai anak tunggal dan putra yang kehilangan kakak perempuannya yang meninggal dunia setahun sebelumnya.
Semuanya terasa menyenangkan bagiku hingga suatu saat ketika aku dan Putra kembali melewatkan sore bersama beberapa bulan kemudian, ia mengatakan sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya. Putra mencintai aku. Aku kaget dan mengatakan padanya bahwa jangan pernah ia mengatakan hal seperti itu lagi.
“ Aku tahu Wi, sekarang ini aku memang belum bisa memberikan kamu jaminan apa-apa bila bersama denganku selain cinta dan kesetiaan.”
Bukan semua itu yang aku maksud. Aku bukanlah tipe orang yang menilai segala sesuatu dari materi. Aku juga ingin mencintai dan dicintai seseorang. Tapi bukan Putra orangnya. Putra lebih pantas menjadi adikku.
“ Apa salahnya? Banyak kok pasangan yang usia pasangan wanitanya lebih tua, tapi ngga ada masalah sama hubungan mereka “
Waktu itu aku diam saja dan tidak menanggapi pernyataannya. Aku tidak bisa seperti itu. Beda usia 3 tahun diantara kami bukan sebuah hal kecil yang bisa begitu saja tak dipedulikan. Aku yang waktu itu sebentar lagi menyelesaikan kuliah sangat tidak mungkin bersama Putra yang baru saja lulus SMU. Apa kata orang kalau aku punya kekasih yang usianya lebih muda 3 tahun dari aku. Melihat aku terdiam Putra lalu berkata lagi.
“ Wi’, jangan bilang bahwa kamu malu punya pacar yang lebih muda dari kamu. “ Aku kaget. Putra tahu apa yang aku pikirkan. Karena bingung mau menjawab apa akhirnya aku memilih diam lagi.
“ Iya kan Wi’? kamu malu punya pacar yang belum setahun lulus SMU kan? “ Ditanya begitu aku semakin gelisah. Aku tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa. Aku tidak mau menyakiti Putra. Sungguh-sungguh tidak ingin membuat dia terluka.
“ Jawab Wi’! jangan diam saja! “ Putra semakin mendesak aku. Dan aku tidak tahan melihatnya seperti itu.
“ Putra!cukup! “ aku membentaknya dan ia langsung terdiam. “ Pernah ngga sih kamu bertanya soal perasaan aku? “
“ Maksud kamu? “
“ Dengar ya Put. Aku tidak mencintai kamu. Selama ini aku menganggap hubungan kita seperti kakak-adik. Itu saja. “ Setelah mengatakan semua itu aku hanya bisa menunduk. Tidak sanggup menyaksikan ekspresi wajahnya. “ Aku juga tahu kamu sudah salah mengartikan perasaan kamu sendiri. Aku yakin kamu sayang sama aku karena kamu menganggap aku sebagai pengganti kakak kamu yang…..”
“ Dewi! Kamu boleh tidak mengakui perasaan kamu. Kamu boleh tidak mengenali diri kamu sendiri. Tapi jangan pernah merasa kamu lebih tahu tentang perasaan aku. Merasa lebih mengenal aku. “ Suaranya begitu dingin. Aku hanya terdiam. Merasa salah mengucapkan kata-kata pada Putra. Aku yakin ini pasti lebih menyakiti dia. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Tidak lama kemudian ia beranjak pergi. “ Dan satu lagi, jangan pernah bawa-bawa nama Kak Anggun.”
Aku sangat menyesal. Kenapa harus mengungkit Anggun didepannya? Padahal aku tahu pasti kalau Putra masih sangat terpukul atas kematian Anggun akibat kecelakaan bersamanya setahun sebelumnya. Aku melihat ia benar-benar melangkah pergi. Padahal aku ingin sekali menahannya. Ingin sekali menjelaskan sampai ia mengerti maksudku. Ingin sekali ia tahu kalau aku tidak bermaksud menyakiti dia seperti ini. Tapi semua sudah terlambat. Putra pergi dan sejak itu tak pernah datang lagi. Aku bukan tidak berusaha untuk menjelaskan pada Putra. Aku bukan tidak ingin minta maaf padanya. Berhari-hari aku susun kalimat untuk itu agar aku tak salah lagi. Agar aku tidak semakin menyakitinya lagi. Aku tak pernah berhenti mencarinya untuk menyampaikan semua kalimat itu. Aku begitu khawatir semua ini mempengaruhi hidupnya. Hingga suatu hari, aku mendengar kabar bahwa Putra melanjutkan kuliah ke luar negri. Dan itu membuatku yakin ia baik-baik saja.

Sejam yang lalu di kantor...
Aku bergegas membereskan meja kerja dan meraih map berisi surat-surat setelah melirik jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 4 sore. Ini sudah setengah jam lewat dari waktu janjian dengan Arya untuk menjemputku. Arya pasti sudah lama menunggu. Dan ini entah sudah yang keberapa puluh kalinya. Persentasi barusan molor lagi sampai setengah jam karena kali ini kliennya begitu banyak tuntutan. Aku dan rekan-rekan satu tim sampai kelimpungan menjawab dan itu menguras tenaga dan pikiran. Meskipun sudah terbiasa seperti ini aku masih saja berharap untuk proyek selanjutnya tidak berhadapan dengan klien seperti ini lagi. Terdengar bunyi dering ponsel yang tak asing lagi di telingaku. Itu pasti telepon dari Arya. Aku merogoh tas dan langsung menjawab tanpa melihat ke layar.
“ Iya, Ar. Aku segera turun. “ ucapku lalu menutup ponsel itu dan segera berjalan menuju lift. Ketika lift tiba di lantai dasar aku bergegas keluar. Aku tidak enak membuat Arya menunggu lagi meskipun aku tahu kalau Arya sedikitpun tak pernah mengeluh atau marah. Ia sangat baik dan sangat pengertian. Aku mempercepat langkah menuju pintu keluar gedung dan ….BRUKK!!Aku menabrak seseorang dan membuat ponsel yang masih kupegang sejak tadi jatuh dan terlempar. Aku berjongkok hendak mengambil kembali ponsel itu.
“ Maaf…maaf mbak…” kudengar suara seorang lelaki.
“ Hati-hati dong mas kalo jalan …”
“ Dewi! “ aku menengadah melihat wajah orang yang juga sedang berjongkok di hadapanku. Dan aku terpaku setelah mengenalinya. “ Dewi Sheila Rahayu kan? “
“ Putra ?! “ kataku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku tiba-tiba bertemu dia di sini. Dan entah mengapa dalam sekejap ada yang terasa kosong di hatiku.
“ Iya. Apa kabar Wi’?” sapanya hangat sambil mengulurkan tangannya.
“ Baik. Ka..kamu apa kabar Put? “ Aku tergagap masih setengah tak percaya dengan apa yang aku alami. Dia banyak berubah. Penampilannya sangat jauh berbeda dari Putra yang kukenal dulu. Putra terlihat lebih dewasa sekarang.
“ Seperti yang kamu lihat sekarang…baik-baik saja kan? Kamu tidak menyangka ya? Mmm…adik.. kamu ini sudah berubah seperti ini.” Aku terkejut mendengar Putra tiba-tiba berkata demikian. Putra masih tidak melupakan kejadian 3 tahun lalu itu. Aku tidak menyangka.
“ Mm…kamu…bekerja di gedung ini juga, Put? ”
“ Iya. Sejak 3 hari yang lalu. Di Invent Advertising. “
“ Hmm…aku tahu…yang kantornya di lantai 7 kan? Kalau aku di…..“
“ Creative kan? “ Aku terkejut mendengar ia menyebut nama perusahaan tempatku bekerja. Melihat reaksiku ia tersenyum lalu melirik map putih berlabel logo Creative Advertising yang kupeluk dengan lengan kiriku. “ Kita akan sering ketemu Wi. Ngga papa? “
“ Maksud kamu apa sih Put. Gedung ini kan bukan punya aku. “
“ Mmm…aku hanya berpikir kalau-kalau kamu tidak ingin bertemu aku lagi Wi’. Tapi masa iya sih adik… sama… kakaknya ngga boleh bekerja di gedung yang sama. Tapi kalau kamu keberatan aku bisa kok pindah dari gedung ini, Wi. ” Ya Tuhan apakah lukanya masih belum sembuh juga?
“ Apa-apaan sih Put. “ aku merasa Putra sedang menghakimi aku dan itu membuatku teringat akan kesalahanku dulu padanya. “ Aku duluan ya…sudah sore…aku sudah ditunggu ” Aku segera pergi. Aku tidak tahan mendengar Putra terus menerus menyinggung kejadian itu. Dan tiba-tiba aku ingat Arya. “ Ohya Put, minggu depan aku bertunangan. Kamu datang yah? “ Aku kembali berbalik dan melangkah namun sesaat kemudian sadar akan kesalahanku mengucapkan kalimat barusan. Aku tak ingat harus mengucapkan maaf pada Putra. Malah harus melukainya lagi. Tidak. Aku harus meminta maaf sebelum ia pergi dan terlambat lagi. Aku menghentikan langkah dan berbalik tapi Putra sudah tidak di sana. Ia sudah pergi. Aku mencoba mencari ke kantornya tapi Putra tidak ada di sana. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana. Bagaimana kalau Putra benar-benar tidak bekerja di gedung ini lagi. Bagaimana kalau aku tak akan bertemu dia lagi. Bagaimana? Tiba-tiba ada sakit yang kurasakan dihatiku, sesak dan akhirnya tumpah dalam tangis. Ya Tuhan aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika Putra pergi 3 tahun yang lalu. Apa yang terjadi? Apa ini yang dimaksud dengan rasa kehilangan itu. Dan di saat yang sama aku baru menyadari kalau aku pernah punya sesuatu yang sangat berharga. Dan kehilangan ini sungguh sangat menyakitkan. Tapi kenapa baru aku rasakan sekarang? Kenapa waktu itu tidak? Aku seperti tidak mengenali diriku sendiri. Beberapa lama kemudian aku berjalan seperti orang yang kehilangan arah.

* * *

“ Sayang! kok malah duduk disini…” Seseorang menyentuh bahuku dari belakang. Arya. Aku lupa arya menungguku. Setelah putus asa tidak menemukan Putra tanpa sadar ternyata aku sudah duduk di tangga teras gedung tempat aku bekerja.
“ Arya….”
“ Tadi aku mencari kamu ke kantor tapi kata teman-teman kamu, kamu sudah pulang. “ Arya menatapku seksama. “ Kamu kenapa sayang? Kamu abis nangis ya? “ Arya tampak sangat mengkhawatirkan aku. Aku menggeleng pelan meski tahu Arya tak mungkin percaya dengan melihat wajahku yang sudah tidak karuan seperti ini.
“ Ya sudah…kalau begitu kita pulang sekarang yah? “ Seperti biasa Arya sabar dan sangat pengertian. Arya membimbingku menuju mobilnya yang berada diparkiran.
Aku tahu Arya ingin bertanya tapi ia lebih memilih diam. Sejak dulu ia selalu mengerti kalau aku tak suka ditanya sebelum aku sendiri yang bercerita. Dan akhirnya kami hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Sampai rumah, Arya mengantarku sampai teras.
“ Sayang...kamu istirahat yah. Kalau kamu sudah bisa menceritakan apa yang terjadi hari ini sama kamu. Kamu langsung telepon aku yah? Kapanpun itu. “
“ Iya. Tapi jangan kuatir Ar. Aku baik-baik saja kok. Makasih ya.. “ ucapku lalu tersenyum padanya.
“ Aku sayang kamu…aku pulang dulu yah? “ ucapnya lagi sembari mengecup keningku.
“ Hati-hati di jalan yah Ar. “ kataku kemudian dibalasnya dengan anggukan lalu pergi.

Seminggu kemudian. .
Hari ini aku akan bertunangan dengan Arya. Tepatnya beberapa menit lagi. Tapi masih saja ada sesuatu di sudut hatiku yang membuatku merasa tidak ingin pertunangan ini terjadi. Sesuatu yang sangat kuat. Entah menguap kemana rasa mantap dan yakinku yang pernah ada sebelumnya. Aku merasa tidak pantas berada di sini seperti ini. Aku tidak pantas mengenakan busana kebaya putih ini.
Sejak pertemuan dengan Putra seminggu yang lalu keyakinanku akan kesempurnaan hidupku lenyap tak bersisa. Dan pertunangan yang akan berlangsung hari ini pun tak lagi kuanggap sesuatu yang melengkapi kesempurnaan itu. Tapi malah kuanggap sebuah kesalahan besar yang akan kulakukan sebentar lagi dan akan kutanggung resikonya sepanjang hidupku kelak. Tapi toh ternyata aku masih disini.
Setelah bertemu Putra lagi sore itu, esoknya aku kembali mencarinya. Dan besoknya lagi aku masih mencarinya. Dan besoknya lagi…dan besoknya lagi. Tapi sia-sia saja. Aku tak bisa menemukan Putra. Dan apakah kali ini aku harus berhenti dan membiarkan dia pergi lagi dari kehidupanku begitu saja tanpa tahu yang sebenarnya. Tanpa tahu kalau aku mencintai dia.
Ya, aku mencintai Putra. Sejak 3 tahun yang lalu aku mencintai dia. Ternyata bertahun-tahun ini aku tak bisa menghadirkan seorangpun masuk ke dalam hatiku, karena tanpa sadar sudah ada Putra di sana. Sekalipun Arya yang sebentar lagi menjadi tunanganku tak bisa menggantikannya. Dan bodohnya aku baru menyadarinya sekarang. Inilah aku yang sebenarnya. Tanpa sadar selama 3 tahun menjalani hidupku dengan mendustai diri sendiri. Menyakiti diri sendiri. Dan baru saat ini kutanggung semua rasa sakit yang sudah bertumpuk itu. Tidak. Aku tidak ingin semakin sakit lagi.. Aku tidak bisa hanya duduk disini dan menanti detik-detik aku akan melakukan kesalahan besar lagi dalam hidupku. Aku tidak ingin kehilangan Putra lagi. Aku harus memilikinya lagi seperti 3 tahun lalu.
Aku harus bergerak sekarang. Mencari Putra lagi. Meski tak tahu mencarinya dimana aku tetap harus pergi. Dan kini aku benar-benar pergi meninggalkan acara pertunangan. Aku tak mempedulikan suara ayah dan bunda yang memanggil-manggil dan berusaha menahanku. Juga pandangan heran dari kerabat dan keluarga yang sudah berkumpul. Pun ketika Arya berhasil mengejar dan menahan tubuhku aku hanya bisa meminta maaf padanya tanpa memberinya penjelasan apa-apa kemudian berlalu bersama taksi yang membawaku pergi.
Aku tahu semua yang kulakukan hari ini akan menyakiti banyak orang. Tapi aku yakin semua itu akan sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Dan sebaliknya, jika tak kulakukan, aku tak yakin akan sanggup menanggung luka dihatiku seumur hidupku.

* * *
Seseorang dari Invent Advertising akhirnya luluh juga untuk memberikanku alamat rumah Putra setelah susah payah aku memohon lagi seperti hari-hari sebelumnya dan membuatku terpukul ketika ia bilang hari ini Putra akan kembali ke luar negri setelah menyerahkan surat permohonan resign pagi tadi. Dadaku terasa sesak lagi. Ingin menangis tapi kutahan. Ternyata Putra benar-benar melakukan semua ucapannya. Dan sekarang aku menuju ke sana dan berharap semoga saja ia belum pergi. Semoga saja aku belum terlambat. Tuhan, ku mohon lakukan sesuatu agar ia tidak pergi dulu.
Aku bergegas turun begitu taksi berhenti tepat di depan rumah Putra. Aku masuk dan segera bernafas lega serta sangat bersyukur begitu melihat Putra ada dihadapanku.
“ Dewi! “ begitu mendengar suaranya aku tidak bisa lagi menahan air mata yang sejak tadi ingin keluar dan langsung memeluknya.
“ Jangan pergi Put. Kali ini jangan pergi lagi. Jangan marah lalu meninggalkan aku lagi. Aku mohon.“ kataku masih berada dalam dekapan Putra yang seketika mengalirkan rasa nyaman dan seketika pula menguapkan rasa sakit di hatiku. “ Aku sudah menemukan kamu dan aku tidak ingin kehilangan kamu lagi. “ ia masih terdiam tapi aku bisa merasakan kelegaan dalam tarikan dan hembusan nafasnya.
“ Bisa…lebih jelas lagi Wi? “ bisiknya kemudian. Dan aku tahu kejelasan seperti apa yang ia maksud.
“ Aku cinta kamu Putra. Kumohon jangan tinggalkan aku. Izinkan aku memilki kamu lagi. “ Ia melepaskan tanganku dari tubuhnya perlahan.
“ Bener, Wi’? “ Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak 3 tahun lalu aku melihat senyumnya yang seperti ini lagi. Senyum yang membuat aku merasa jadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Aku mengangguk tegas. Dan segera ia meraih tubuhku lagi ke dalam pelukannya.
“ Put, maafin aku karena aku pernah tak mau mengakuinya dan malah menyakiti kamu “
“ Maafkan aku juga yang sudah lancang mencintai kamu…Kak Dewi ” Ia menggodaku.
"Putra!” aku marah karena ia mengungkit hal itu lagi. Aku lalu mendorong tubuhnya dan berusaha melepaskan pelukannya tapi tak bisa karena ia semakin mempererat dekapannya.
“ Kamu tahu Wi’, waktu itu aku pergi tapi tak pernah berhenti berharap semua ini akan benar-benar terjadi. Tapi entah kenapa tadi pagi aku merasa semua ini mustahil terjadi. Dan aku menyesal pernah berhenti berharap meski hanya beberapa jam saja.“ bisiknya padaku. “ Terima kasih Dewi. Terima kasih karena kamu datang ketika aku mencoba berhenti berharap.“
Aku berani meyakini kalau kali ini aku sangat bahagia. Benar-benar bahagia. Sesuatu yang tidak pernah berani aku yakini, pun ketika dulu aku merasa hidupku sempurna.

* * *
Aku pernah tanpa sadar memiliki sesuatu yang berharga dalam kehidupanku lalu kehilangannya. Aku lalu mencarinya meski tidak menyadari kalau aku masih terus mencarinya. Kini ketika aku menemukannya kembali aku nyaris kehilangannya lagi sebelum memilikinya kembali seperti ini. Aku janji tak akan menyangkal semua itu lagi. Aku berharap tak akan pernah kehilangannya lagi karena aku sudah sadar sepenuhnya telah memilikinya.

From The First until The Seventh Beginning

1st______
Adalah “saya” seseorang yang masih sendiri ketika baru akan mengawali kehidupan yang juga sendiri. Dan saya tak pernah berharap lebih saat memang saya harus sendiri. Saya pun tidak tahu kalau saya tidak akan terus sendiri.



2nd______
Itu awal tahun 1997.
Pertengahan 1997, pertemuan dengan seorang gadis manis “Yaya” adalah awal dari segalanya. Kebersamaan itu terasa sangat manis.
Dari titik ini masih sangat jauh cerita ini sampai ke ujung.



3rd_______
Lalu ada sosok “Risal Soekarta” yang muncul dengan segala keluguan dan kekanakannya. Kica bersiap menjadi adik yang manja diantara dua kakak yang menyayanginya. He is the third beginning.



4th & 5th______
Ketika keberadaannya selama beberapa bulan terasa luput begitu saja. “Anas dan Aan” tak pernah menjadi bagian dari kami sampai kami sadar kalau keduanya adalah bagian dari kami.



6th & 7th______
Satu hari yang cerah, dari 3enam (begitu kami menyebutnya), tidak disangka seorang cowok idola di sekolah mereka “Herwin” dengan berbagai kelebihannya akhirnya resmi menjadi the sixth beginning.
“Saleh” itu nama terakhir yang akhirnya melengkapi “tujuh itu”. Jadilah ia the last beginning saat kami sudah sangat bersyukur dengan “enam itu”.



Awal thn 1998 ketika telah lahir tujuh itu.
Saya masih sangat ingat sekali, bertujuh kami berjalan dalam diam. Masing-masing merenungi sesuatu yang tak jelas.
Yang telah jelas hanya suatu komitmen yang tersusun rapi. Hanya satu kalimat yang terus menerus teringat untuk mewakili semua itu.
“ We are friendship never die”



Tiba-tiba saya tak sengaja menggumamkan sesuatu yang tertulis pada t-shirt Aan. “Anarchi..”
Namun tak terjadi apa-apa.
Sampai pada esok harinya tergesa-gesa “Yaya” menghampiri kami yang masih asyik memikirkan sesuatu yang tak jelas itu.
Yaya berkata: “Benar. Kita itu Anarkhys bukan Anarchi.”
Lalu kelak kamipun tahu hal inilah suatu yang tak jelas itu.
ANARKHYS.



AN itu Anas, A itu Aan, R itu Rikha, K itu Kica’, H itu Herwin, Y itu Yaya, dan S itu Saleh.
Tujuh itu Anarkhys. Mengikat erat tubuh kami.




Lets know who we are……

Anas. Nama lengkapnya: M. Anas Samad. Anas lahir di Pangkajene 4 November 1984. Anas itu baik. Dia pintar. Tapi terkadang dia terlalu menggampangkan segala masalah. Sehingga dia sering gagal meraih sesuatu yang diinginkannya.Dia sering sekali ceroboh sehingga hal yang sebenarnya mudah untuk ukuran dia, menjadi sangat sulit. Kami sangat marah ketika ada seseorang yang telah menyakiti dia. Terasa sakit bagi kami semua.Tapi Anas itu tabah.Itu yang sangat kami kagumi darinya. Karena seandainya saja kami bukan bagian dari dirinya, kami tak akan pernah tahu setiap dia punya masalah. Dia pandai menutupi segala hal buruk yang menimpa hidupnya dengan selalu tersenyum. Saya sangat tahu kalau Anarkhys baginya adalah segalanya.


Anggie Hidayat lahir di Pare-pare, 02 Desember 1984. Aan itu cerdas di semua mata pelajaran. Seperti Anas dia tak pernah lepas dari rangking sepuluh besar di kelas kami. Dia pandai bermain gitar. Aan itu orang yang serba rapi dalam segala hal. Dia orang yang sangat bijaksana. Sehingga akhirnya dia dinobatkan sebagai yang ‘tertua ‘ di antara kami bertujuh. Aan itu sering menjadi penengah dalam segala persoalan yang terjadi antara kami. Kamipun tak heran ketika dia tertimpa masalah, dia hanya cukup menceritakan saja pada kami. Selebihnya bisa dia atasi sendiri, tanpa mengurangi makna dari persahabatan kami. Begitulah dia sampai kami semua tetap selalu percaya kalau dia selalu baik-baik saja. Dan memang dia selalu baik-baik saja. Karena dia cepat melupakan sesuatu yang katanya tak ada untungnya bila diingat terus. Dia pernah berkata tak ada yang lebih penting untuk selalu diingat selain “tujuh” itu.



Rikha Riyanti Anwar. Anarkhys biasa memanggil saya Rikha. Lahir di Pangkajene, 26 Februari 1985. Saya orang yang selalu serius menghadapi segala hal. Dan saya sangat menghargai kebersamaan kami. Saya menyayangi dan mencintai Anarkhys seperti saya menyayangi dan mencintai diri saya. Dan saya tidak pernah ingin sesuatu yang buruk menimpa “tujuh itu”.
Sayapun mengakui saya sering membuat masalah diantara kami dengan kepekaan perasaan saya. Diantara kami saya yang paling cepat merasa tersinggung. Dan tak heran merekapun selalu bersikap mengerti, dengan jalan selalu terbuka akan segala hal diantara kami. Sehingga tak ada sedikitpun celah bagi saya untuk merasa tersinggung. Mereka selalu jujur. Tak ada sedetik pun kesempatan untuk merasa tersisihkan.



Kica’kelahiran Pangkajene, 25 Mei 1985. Risal Soekarta nama lengkapnya. Si bungsu ( begitu biasa kami menyebutnya ) ini, yang paling manja dan selalu merasa butuh kasih sayang. Maka diapun memang sering bertingkah egois. Wajar saja karena kami berenam seakan menjadi kakak yang ingin selalu melindungi dia. Saya tahu terkadang dia sendiri merasa gerah dengan perhatian kami. Kamipun memang mengakui kalau terhadap dia kami over protective. Dan makin bertambah ketika kami dapati adik kecil kami dilukai perasaannya.Tapi sikecil itu yang akan paling merasa sebal bila ada suatu problem. Kica adalah seorang seniman murni. Selain bisa main gitar (setelah belajar dari Aan dan Herwin), ia jago gambar.
Suatu kali, pernah saat kebersamaan kami mendapat cobaan kecil, dia berkata kalau dia yang akan paling merasa sakit kalau ikatan kami bertujuh putus.




Herwin Amier. Wiwin lahir di Pangkajene 22 Oktober 1984. Sosoknya memang paling ramah diantara kami bertujuh. Satu karakter yang tidak bisa diubahnya, dia playboy. begitu kata orang, walaupun rasanya sebutan itu terlalu berlebihan. Mungkin karena banyak gadis yang menyukai dia. Tapi satu yang sering kami katakan padanya bahwa jangan pernah terlalu berlebihan untuk yang satu itu. Karena kami khawatir suatu saat akan ada yang menyakiti dia akibat dari semua itu. Sebenarnya itu bukan masalah bagi kami, karena ia senantiasa mengingat semua itu. Dan dia tak pernah merasa hal itu lebih penting daripada tujuh cinta miliknya. Sejak kebersamaan kami Wiwin tetap bebas menjalin pertemanan dengan siapapun. Untuk kami, semua itu sah-sah saja tanpa terkecuali tentunya. Wiwin sangat menguasai alat musik gitar. Kami selalu mendorongnya mengembangkan bakatnya itu. Dan ternyata semua itu tak sia-sia.



Yaya gadis manis kelahiran Pangkajene 08 April 1985 bernama lengkap Hidaya Stiana. Yaya gadis yang periang. Mulutnya tak akan pernah berhenti bicara sebelum dia terlelap dalam tidur. Dia ramah pada semua orang. Sampai-sampai keramahannya itu sering disalah artikan oleh orang lain terutama makhluk yang namanya laki-laki. Tapi satu kekurangan dia. Dia susah dinasehati. Sulitnya lagi dia selalu saja punya jawaban setiap kali kami memperingatkan dia. Kami sering putus harapan ketika kami gagal memperingatkan sesuatu yang kami khawatirkan tentang dirinya. Walau begitu sayapun tahu kalau dibalik keceriaannya dia sangat rapuh. Kami pernah menangis bersama-sama. Ketika pernah kami berdua meragukan kekuatan Anarkhys kami. Perasaan kami waktu itu sangat hampa. Lalu kudengar dia berkata, dia tak akan pernah lelah untuk tetap memperkuat ikatan antara kami bertujuh.



M. Saleh Mk. lahir di Pangkajene, 15 November 1984. Saleh orang yang sangat cuek. Ia tampak sangat tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Termasuk jika terjadi ribut-ribut kecil diantara kami, dia yang kelihatannya paling tidak peduli. Sampai dia yang akan meminta giliran berbicara. Dan semua perkataannya membuat persoalan selesai. Namun,sebenarnya kami tahu dia yang paling banyak memiliki masalah. Terutama masalah dengan kedua orang tuanya. Kami tak pernah habis pikir kenapa dia harus selalu ditentang keinginannya padahal kami tahu tak ada yang salah. Kami selalu membantu sebisa kami. Dan kami memang tak mau meninggalkan dia. Puncak kesedihan kami ketika pernah Saleh mengalami kecelakaan. Kami hampir saja kehilangan salah satu bagian dari hidup kami. Walau hanya menyebabkan kaki Saleh pincang dan kesakitan selama beberapa bulan, tapi semua itu membuat kami merasa harus lebih melindungi dia.
Waktu itu dia selalu berkata: “Bagaimana aku meninggalkan dunia, sedangkan sebagian dari hidupku tertinggal disini.”




Selama beberapa bulan kebersamaan kami terasa sangat manis. Tapi, entah sejak kapan mulainya kamipun tidak tahu bahwa teman-teman memperdulikan tentang kami. Begitu banyak cerita tidak enak dalam berbagai versi yang tidak jelas bersumber darimana. Saya yang mulai tak senang dengan keadaan itu memutuskan untuk membicarakan hal itu. Saya tidak mau hal itu terus menerus berlanjut. Tapi mereka hanya berkata hal itu cukup didengarkan saja. Tak perlu sampai harus mengubah keadaan. Dan jawaban itu lebih membuat saya mengerti betapa tabahnya mereka. Akhirnya hal itu tidak lagi jadi masalah.
Tapi apakah hal itu benar-benar tidak menjadi suatu masalah?




Suatu hari beberapa bulan kemudian datang Yaya dengan keluhan sudah tidak tahan lagi dengan kesinisan ucapan orang-orang tentang mereka.
Kami semakin tidak mengerti dengan semua itu. Kenapa sekarang ada orang-orang yang mencoba mengusik kehidupan kami.
Hidup kami selanjutnya kembali normal setelah mencoba bertahan terus. Bertumpu pada komitmen yang telah ada sebelumnya. Dan benar saja, lambat laun semua itu akhirnya berlalu.



Pertengahan thn 1999 Aan, Herwin,dan Kica mulai menampakkan ke dunia luar semua kelebihan yang mereka miliki. Saat itu saya tahu kalau keduanya akan menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Keeksisan mereka di bidang musik sudah sangat menonjol menjelang akhir 1999. Begitupun dengan Saleh. Dan itu membuat Rikha, Anas, dan Yaya menjadi bangga.


Akhir 1999 Anas memutuskan untuk pindah ke Palembang ikut kakaknya. Perpisahan dengan Anas membuat Saya dan Yaya takut akan kondisi kebersamaan mereka. Kami diam-diam mulai khawatir. Sangat khawatir. Berdua kami sering membicarakan hal ini. Tapi sedikitpun kami tidak mendapatkan jalan keluarnya. Pikiran kami buntu. Tak percaya kami bertanya pada diri sendiri. Apa Anarkhys kami sudah mulai retak?


Pertengahan thn 2000. Sekolah baru, kehidupan baru, teman-teman baru.
Frekuensi pertemuan kami yang kini hanya berenam makin berkurang. Hanya saya dan Yaya yang sering menunggu tanpa alasan yang begitu jelas. Dan kami masih dapat mentolerir hal itu sepanjang itu untuk kebaikan mereka. Pertemuan di sekolahpun seakan tak berarti lagi. Belakangan saya dan Yaya baru sadar setelah Aan dan Herwin tak pernah lagi mengungkit tentang Anarkhys. Kami berdua sadar kalau akan terjadi sesuatu.



Dan akhirnya terjadi juga ketika saya dan Yaya mendengar Aan dan Herwin yang telah membentuk kelompok musik bersama beberapa teman sekolah, mengucapkan kata-kata yang membuat sesuatu yang berharga luruh dari hati kami. Anarkhys bubar!
Kalimat sesingkat itu akhirnya meruntuhkan komitmen Anarkhys yang telah kami bangun dengan susah payah. Tapi saat itu saya dan Yaya masih bersikeras bertahan. Berharap semua itu hanya sebuah ujian bagi kami semua. Berdua, kami kembali ingin membicarakan hal ini dengan mereka. Mencoba menata kembali segalanya.
Hari itu berenam tanpa Anas kami berkumpul. Saya tahu baik Aan maupun Herwin tidak ingin melukai perasaan kami. Khususnya saya dan Yaya.
Mereka mengira dengan mengucapkan kata: “ Kita semua tetap berteman “ bisa membuat kami melupakan semua itu. Dan saya tahu pertemuan kami semua hari itu adalah akhir dari segalanya.
Si bungsu kami hari itu berkata: “Anarkhys tetap ada. Kita berlima tetap Anarkhys”
Tapi, semua tak akan sama seperti dulu.
Selesai sudah cerita kami ketika si bungsupun mulai menjauh dari kata-katanya sendiri. Baik Saleh maupun Anas tak pernah berkata apapun tapi saya tahu mereka telah menyerah. Kami sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi.



Sebenarnya sulit sekali menjabarkan kondisi perasaan kami semua. Ketika sesuatu yang pernah menjadi kehidupan kami tiba-tiba raib begitu saja. Walaupun keadaannya seperti ini, saya percaya bahwa hati kami bertujuh ingin membenahi semuanya. Tapi keegoisan mengalahkan segalanya.


Dan tinggallah kami berdua The First and the second beginning ingin menata kembali kehidupan kami. Mencoba membiasakan diri melangkah tanpa lima cinta kami. Berdua kami tetap ingin menjalankan komitmen sebelumnya. Hanya berdua. Itu akhir thn 2000.
Sekolah baru, dan teman-teman baru membuat kami berdua bisa belajar mencari sendiri apa yang telah hilang dari diri kami berdua.



Pertengahan thn 2000 itu saya mengenal Bambang.
Pertemanan kami sampai saat ini cukup memberikan nuansa baru yang dulunya pernah ada dan hilang. Saya, yaya, dan Bambang menjalin persahabatan kental yang tidak bisa disamakan seperti tujuh kami dulu. Tapi kami berdua tahu bahwa yang kami dapatkan itu sedikit bisa mengisi hati kami yang kosong karena luruhnya sesuatu yang berharga itu.



Pada saat yang sama saya dan Yaya mengenal Sarman. Salah satu anggota kelompok Toembal yang saya kenal sejak perkenalan dengan Bambang. Sarman yang baik melengkapi kesadaran saya bahwa masih ada sesuatu yang berharga yang akan menggantikan yang luruh itu.


Lalu, masih pertengahan 2000 menjadi saat-saat untuk membagi kasih dengan orang-orang yang sebelumnya tak pernah ada dalam hidup kami. Yaya memulai dengan seorang Roem dan lalu diikuti dengan saya mencoba hal yang sama dengan seorang Yudi. Bagi kami berdua mereka cukup mewarnai kehidupan kami. Dan selama rentang waktu itu kami mendapatkan sesuatu yang berbeda dari apa yang kami dapatkan sebelumnya. Tapi akhirnya kami menyelesaikannya dengan kekhawatiran kami masih tak bisa menjalani dengan serius seperti kebersamaan ”tujuh” kami. Pertengahan 2001 episode itu kami akhiri tanpa niat untuk memutar kembali.



Tahun 2002
Tak sedikit yang bisa saya ceritakan. Ada banyak hal. Bahkan air mata beberapa kali luruh. Bahkan hati saya beberapa kali terasa perih. Bukan karena ANARKHYS. Bukan karena tujuh cinta itu. Bukan. Tapi sesuatu yang pernah saya inginkan untuk menjadi pengganti tujuh itu. Tapi tidak bisa.
Ada seorang Kurnia Damis. Bambang, seorang kawan yang lucu dan pengertian. Seorang kawan yang seringkali membuat saya tertawa kala menangis. Bisa merubah wajah saya yang kusut menjadi ceria. Bisa mengganti mata yang redup menjadi berbinar.



Dan ada Sarman Hafid. Sosok yang penuh dengan kesederhanaan. Dewasa, bijak, dan rendah hati. Seperti itulah mungkin gambarannya. Tentu saja sangat berarti ketika saya mengenal dia.
Tak saya sangka setelah mengenal mereka, masuk juga saya ke dalam lingkungan mereka. Lingkungan yang sangat ramah menyambut saya. Penuh kehangatan penuh canda penuh tawa penuh kebahagiaan. Selain mereka saya mengenal sosok-sosok yang sama hangatnya dengan mereka.



Fahrun Rustan. Menjadi teman saya, Ayyung memberikan banyak sekali pengalaman berharga. Karakternya yang sangat berbeda membuat kami dan dia sering cekcok. Dan hanya dengan Ayyung pernah selama 3 bulan kami tak bertegur sapa, hanya karena masalah yang sangat sepele. Ya, sosok Ayyung memang kekanak-kanakan. Tapi, pada dasarnya dia baik.


Parawansyah Firdaus. Yang saya tahu sejak mengenal dia, tiap menghadapi dia, dia selalu bisa tersenyum. Baba’ senantiasa selalu menghargai orang lain dalam hal apapun. Dan dia selalu siap menolong saya, tiap kali saya membutuhkan bantuannya.


Amal Dewa. Entah bagaimana cara menjabarkan karakter dia. Yang jelas saya merasa sangat prihatin dan sedih ketika tahu bahwa Amal memutuskan untuk berhenti sekolah.
Dan lebih sedih lagi ketika saya tahu bahwa Amal melakukan itu karena telah terkena pengaruh buruk dari teman-teman barunya.



Mereka punya nama sendiri. Saya tak sedikitpun ikut andil dalam pemberian nama itu. TOEMBAL. Satu nama yang kelak mewarnai kehidupan saya ketika proses melupakan tujuh itu sedang saya lalui. Dan benar, saya bisa melakukan segala hal bersama mereka.
Namun, begitu saya putuskan merekalah yang akan menjadi pengganti tujuh saya, ternyata saya salah. Sekian hal yang saya lakukan bersama mereka, sekian kali juga saya bandingkan dengan tujuh itu, dan terus terang hati saya selalu berkata tujuh itu masih lebih baik.
Saya mencoba terus, sampai saya merasa yakin.


Keyakinan saya goyah. Mereka menyakiti saya. Tujuh itu tak pernah membuat saya merasa sakit selama kebersamaan kami. Tujuh itu selalu memberi saya kekuatan, menopang saya ketika saya rapuh. Pun ketika diujung perpisahan mereka masih menguatkan saya.


Tahun 2003
Waktu berjalan terus, tak terasa SMUpun telah berlalu dengan aneka hal yang terlebih dahulu harus dihadapi. Apa itu aral atau bukan.
Namun sesungguhnya sampai saat ini masih tak ada yang terasa istimewa bagi saya selain ANARKHYS. Entahlah, semakin bertambah lama semakin melekat juga kenangan itu pada diri saya. Seakan tiada satupun yang bisa menggantikannya. Padahal saya sudah sering mencoba. Tapi tak bisa.
Belakangan saya sering memimpikan kebersamaan itu. Bersama mereka, tujuh cinta itu. Tapi saya sadar, segala yang terjadi tak selamanya seperti yang diangankan.
Namun tetap saja saya semakin tak begitu suka segala hal indah yang saya alami.
Seakan keindahan itu hanya ada pada ANARKHYS . Walaupun saya tahu keindahan itu, adalah masa lalu.

Friday, August 1, 2008

Untuk Sahabatku

July 2002


Bulan ini kita sama-sama sudah duduk di kelas 3. Aku bahagia ketika tahu kalian semua diterima dijurusan IPA. Aku bangga sekali pada kalian karena keberhasilan kalian mendongkrak nilai yang semula pas-pasan itu. Aku tahu semua itu kalian dapatkan dengan perjuangan dan usaha yang keras. Dan atas izin Allah tentu saja. Ya, ini adalah bagian dari kekuasaanNya.


Agustus 2002


Aku tahu tidak mudah bagi kalian mengikuti sistem belajar yang cukup ketat di jurusan IPA ini. Kalian memang terbiasa dengan cara belajar yang nyantai waktu kelas 2 dulu. Tapi kalian meyakinkan aku kalau kalian bisa. Kalian tidak bodoh. Kalian hanya butuh dukungan. Dan kalian membuktikannya. Tidak hanya secara akademik. Aku bangga karena tak pernah ada lagi berita-berita miring di sekolah yang kerap kali muncul akibat kenakalan-kenakalan dan perilaku minus kita yang tak lain adalah bentuk protes dari sikap orang tua kita yang sudah merasa menjadi orang tua yang baik dengan memberikan limpahan materi.

Ah, sekarang pun kita semua telah mampu menyadari bahwa semua ini patut disyukuri. Persahabatan kita ada karena semua itu. Perasaan senasib yang kemudian menyatukan kita. Aku bahagia telah mengenal kalian. Terima kasih ya Rabbi.


September 2002


Melihat perubahan yang terjadi pada kalian aku mulai khawatir. Dimana teman-temanku yang lebih senang menghabiskan waktu luangnya untuk ikut kajian agama di sekolah atau latihan basket setiap sore ketimbang keluyuran ngga jelas sampai pagi. Kini kalian mulai suka bergabung dengan anak-anak berandal itu dan kebut-kebutan sepeda motor di jalanan daripada ngumpul di kos kita membahas pelajaran-pelajaran sekolah. Bahkan kerap kali aku mulai sering melihat terjadi perselisihan diantara kalian yang sampai-sampai berlanjut ke adu fisik. Apakah ini pertanda buruk bagi persahabatan kita? Ya Allah, secepat itukah teman-temanku berubah?



November 2002


Batinku menangis melihat keadaan kalian. Saat tiba waktu shalat tak pernah lagi kutemukan sosok kalian diantara para makmum di masjid dekat kos kita. Rutinitas kalian mendekatkan diri kepadaNya satu persatu kalian tinggalkan.

“ Akhir-akhir ini sibuk urus festival band”

Astaghfirullah. Dalih itu kalian ucapkan begitu ringan ketika kucoba mengingatkan tentang hal ini. Ingin rasanya langsung kutodong kalian dengan pertanyaan , apakah soal duniawi itu kini lebih penting dari akhirat kalian? Tapi entah kenapa bibirku mendadak kelu.

Ah, kini aku semakin sadar kalau kalian kini sedang asyik dengan dunia baru yang sungguh asing bagiku.

Aku benar-benar tak habis pikir. Tak ingatkah kalian dengan pengalaman pahit yang pernah kita dapatkan bersama ketika kita pernah terjerumus ke dunia hitam yang telah merenggut seorang Adi dari sisi-sisi kita dengan sia-sia. Apalagi seingatku ketika dengan susah payah kita berhasil meninggalkan dunia laknat itu, kita semua berjanji untuk tak kembali lagi kesana. Tapi sekarang? Ya Rabbi, rengkuh kembali teman-temanku ke dalam belaian kasihmu dan jangan pernah lepaskan lagi.


Januari 2003


Semenjak kepindahanku kembali ke rumah orang tuaku sebulan yang lalu , baru kali ini aku sempat berkunjung ke kos kita. Ya. mereka telah kembali rukun dan telah menyadari kesalahan mereka selama ini. Tapi batinku kembali menangis. Menginjakkan kaki ke tempat itu kini tak lagi menghadirkan ketenangan. Semua diganti dengan suasana asing. Ya Allah, hal apa lagi yang akan kulihat sekarang?

Andai saja tak kuingat penghuni tempat itu adalah kalian, mungkin aku sudah berlari jauh. Jauh sekali dari tempat itu. Kaliankah itu?

Aku tak akan percaya bila tidak melihat dengan mataku sendiri. Wajah-wajah tirus itu, benda-benda maksiat itu, membuatku terpaku. Dan seketika ada yang terasa luruh dihatiku. Perlahan-lahan hilang. Lalu terasa kosong.

Menyadari kehadiranku dengan cekatan kalian memanipulasi keadaan. Menyembunyikan sesuatu.

“ Kok tumben Bin ke sini? “ ucap Sarman gugup memecah kebisuan yang sempat tercipta di antara kami. Aku tercekat. Pertanyaan itu kudengar seolah-olah sebagai ungkapan kalian padaku bahwa betapa egoisnya aku. Aku yang telah lepas dari masalah yang sama yang telah menyatukan kita selama ini seolah melupakan kalian yang masih terbelenggu di dalamnya. Aku telah menuntut kalian untuk selalu mempertahankan kebersamaan kita, sementara aku sendiri tanpa sadar telah membentuk duniaku sendiri. Jauh dari kalian.

“ Maafkan aku. Mulai sekarang, Insya Allah aku akan terus bersama kalian. Seperti dulu. Maen basket bareng. Belajar bareng. Ke Mushol…”

“ Ah Bintang. Santai aja lagi. Kita..ngerti dengan kesibukan kamu. Lagian..tau ngga.. kita fun-fun aja kok. Tenang….”

“ Fun? Dengan yang barusan kalian sembunyikan itu? “ sengaja kupotong ucapan ayyung tapi kucoba sehalus mungkin. Aku ingin kalian tahu kegalisahan hatiku saat ini.

Kalian bergantian saling memandang. Aku tidak tahu apa yang sedang kalian pikirkan saat ini. Bambang mendekatiku lalu menepuk bahuku pelan.

“ Ngga usah kuatir, Bin. Ngga sampai mabuk kok. “

Sebegitu cepatnyakah kalian melupakan apa yang telah sama-sama kita yakini? Betapa sebenarnya ingin aku menjelaskan kembali segalanya. Membuka ingatan kalian. Tapi aku sadar saat ini bukanlah waktu yang tepat. Biarlah kucoba dahulu mengembalikan kedekatan kita satu sama lain. Menghapus jarak yang pernah sempat tercipta diantara kita. Ilahi Rabbi, tolonglah hambaMu untuk membawa mereka kembali ke jalanMu.

Maret 2003


“ Bin, tadi malam kita baru tau setelah Ayyung sakaw.”

Sejenak kutatap wajah tirusmu itu. Sakit sekali kurasakan. Tangisku seketika pecah. Lalu kuraih tubuhmu yang tergolek tak berdaya dari ranjang putih itu. Kupeluk erat-erat. Kutumpahkan seluruh maafku padamu. Dimana aku ketika kamu menghadapi masa sulit itu? Kenapa aku biarkan kamu berjuang sendiri? Seharusnya aku bisa memaknai segala perubahan yang terjadi pada kamu. Semestinya aku tak langsung puas ketika kudapati Bambang dan Anca bersujud kembali di atas sajadahnya. Pun ketika kudengar kembali tilawah-tilawah panjang Sarman. Semua itu tidak seharusnya membuatku berhenti menyertai perjuangan kalian kembali ke jalanNya.

Sahabatku, maafkan aku. Mulai hari ini kita akan terus bersama-sama menghadapi semuanya. Masih panjang jalan yang harus kita tempuh. Masih sangat banyak aral yang harus kita lewati. Dan kita harus yakin kalau masih ada Dia yang senantiasa mengulurkan tanganNya menuntun kita kembali kedalam pelukanNya


Based on true story

Thanks for ‘someone’ who trust me and talk to me about his story life

And let me write this story to tell other one about friendship for























ANTARA GUE, SAHABAT GUE, DAN COWOK ITU

“Ke, kakak itu namanya sapa sih?” tanyanya tepat saat suapan terakhir batagor masuk ke mulut gue.

“ siapa?” Tanya gue balik setelah menelan makanan yang gue kunyah ngga sampe 5 kali itu.

“ yang ngobrol sama elo di kelas interior itu? “

“ yang mana? “ gue masih belum ngeh. Tapi setelah melihat wajahnya yang putih bersih jadi merah merona begitu, gue memutar ingatan, kembali ke kemarin siang. Ke kelas mata kuliah ruang dalam. Mengingat-ingat siapa saja senior yang ngobrol sama gue selama kurang lebih 3 jam itu yang bisa bikin tingkah cewek yang akrab banget sama gue ini jadi aneh kayak gini. Gue coba flash back dulu.

Sampai studio bubar gue merasa ngga ngobrol sama seseorang yang ngga dia kenal kok. Setelah perspektif gue kelar, gue ngeberesin peralatan gambar gue itupun dibantu sama dia. Trus karena udah sore banget gue buru-buru pul…Oh iya, dia?! Cowok itu?! Kontan perasaan gue ngga enak. Ah, mudah-mudahan bukan cowok itu yang dia maksud. Tapi, siapa lagi. Cuma cowok itu yang sempet ngobrol sama gue yang bisa jadi kandidat cowok yang ngga dia ketahui namanya. Yang sebenarnya juga ngga kenal-kenal amat sama gue. Obrolan kemarin sore itu bisa kejadian juga gara-gara dia nanyain synopsis cerita film yang vcd-nya tergeletak di kursi gue yang kemudian diambilnya untuk dibolak balik itu.

“ Ke’..siapa?” Gue tiba-tiba males ngeladenin cewek baik dan manis yang tumben hari ini nyebelin banget bagi gue.

“ Entar yah..gue bayar Mas Juki dulu. Abisin tuh makanan…” Gue beranjak dari kursi menuju ke kasir kantin kampus. Sejenak ngehindarin pertanyaannya yang berat banget rasanya untuk gue jawab padahal gue jelas tahu jawabannya.Dari kasir gue lihat dia asik menghabiskan nasi ayamnya yang dari tadi lama banget ngga abis-abis itu. Dasar putri solo. Makan pun lelet nya bukan main. Gue berjalan kembali ke meja. Kulihat dia sudah menyelesaikan makannya. Semoga saja dia juga sudah melupakan pertanyaannya tentang cowok itu.

“Udah?...Yuk.” Dia beranjak sambil membawa tasnya. Kami berjalan keluar dari kantin kampus. Gue merasa was-was kalau-kalau dia masih penasaran dan melanjutkan interogasinya pada gue.Yes! I got a good idea!

“Eh.. kemarin gue baru nyewa beberapa film. Lo udah nonton bring it on again kan? Ceritanya kayak gimana sih?”

“ Oh…yang tentang cheers itu?” dia langsung antusias.

“Keren banget, Ke. Koreo nya itu loh…wow!. Ceritanya gini ada seorang cewek bernama whittier smith yang pengen banget gabung sama tim cheerleaders kampusnya. Trus….”

Fffhh..kalau udah ngomongin film dia pasti bakal lupa segalanya. Gue bisa bernafas lega. Setidaknya untuk beberapa saat gue bebas dari pertanyaan-pertanyaannya tentang cowok itu. Bukannya gue pelit ngasih info, gue cuma rada enggan aja kalau cewek ini bakal jadi rival gue ngegebet dia.Gue ngga sanggup bersaing. Sapa sih yang bakal nolak digebet sama cewek yang digilai banyak cowok di kampus gue ini.




Namanya Ikbal Anugrah. Cowok itu angkatan 2001. Dua tingkat di atas gue. Yang pastinya satu jurusan sama gue. Gue juga baru tahu namanya 3 hari yang lalu. Yang pas di kelas interior. Setelah mencari tahu di buku absen mata kuliah itu tentunya. Sebenarnya udah lama gue selalu perhatiin dia. Semester lalu ada beberapa kuliah yang sekelas sama dia. Dan semester ini pun juga.

Tapi entah kenapa sejak dia ngerjain gue, gue ngerasa ada sesuatu dari dia yang menyita perhatian gue tiap kali ada dia. Fisik? Gue rasa bukan itu. Dia memang cukup ganteng dengan rambut cepak dan kulit sawo matang bikin dia terlihat manis. Tapi gue lebih tertarik pada sifat lucu, usil, dan ramahnya itu, juga kesederhanaannya.

Soal dia ngerjain gue, gue emang sempat kesal banget. Gimana ngga? Gue bolak-balik naik tangga gara-gara cowok itu bilang kalau dosen yang gue cari ada di lantai 2. Ngga cuma sekali. Hari itu dia nipu gue dua kali. Tapi kejadian itu yang bikin gue jadi penasaran dan tiap saat merhatiin tingkah lakunya. Dan akhirnya gue terkesan.

“Hai…” lamunan gue buyar karena seseorang yang sibuk melambai-lambaikan tangannya beberapa centi di depan mata gue.Dia…Ikbal!

“Pagi-pagi ngelamun… “ katanya sambil mengambil tempat duduk tepat di sebelah gue dan menggelar kertas gambar di mejanya.Oh iya. Hari ini gue sekelas lagi sama dia. Tumben datang pagi-pagi. Biasanya juga datang pas ngga ada tempat duduk lagi buat dia. Dan kalau udah gitu dia akan mengelilingi ruang studio dan menghampiri teman-teman sekelas satu persatu untuk sekedar menyapa, diajak ngobrol, atau bahkan ngusilin.

“ Hey…” lagi-lagi ada yang melambaikan tangan di depan… Duh, gue jadi malu dua kali kedapatan ngelamun sama dia. ”ada rotring 0.5 ngga? “ ucapnya lagi dengan senyum khas nya itu.

“ Yah? Oh iya..ada. Kak Ikbal cari di kotak ini.” Kataku sambil memberikan kotak plastik segiempat tempat gue menaruh berbagai jenis pulpen gambar gue.

“ Ngga pa-pa nih nyari sendiri? “

“ Ngga pa-pa kok.”

“ Sudah kelar tugasnya?” katanya sambil mengobrak abrik tempat pensil gue.

“ Ha? Astaga…gue belum ngasih notasi.” gue panik setelah sadar tugas yang tidak kelar gue kerjakan semalam itu belum gue sentuh sedikitpun.” Notasi juga belum di tinta. Site plan nya juga belum lengkap. “ gue semakin panik mengingat tugas ini dikumpulkan pagi ini juga tepat pada saat kuliah ini dimulai. Karena panik dan tergesa-gesa ngga sengaja gue nyenggol tempat pensil gue, jatuh dan isinya tumpah berantakan di bawah meja. Duh gue kok jadi kacau begini.

“ Ngga papa. Biar gue aja yang beresin. Lo terusin aja…” dia menjongkok ke kolong meja dan membereskannya.

“ Makasih.”

Teman-teman lain sudah pada berdatangan sementara gue masih sibuk dengan tugas gue yang masih jauh dari lengkap sambil terus berharap bu Shirly, dosen mata kuliah ini akan datang terlambat. Dan gue baru sadar kalau cowok itu masih terus berjalan jongkok di bawah meja mencari-cari semua pulpen gue yang memang menggelinding sampai ke kolong meja paling belakang. Gue jadi ngga enak dan terus menerus celingak-celinguk mencari tahu apa dia sudah ngga jongkok dibawah meja lagi. Duh, gue jadi nyusahin dia banget nih.

“ Selesai. Mudah-mudahan ngga ada yang kurang “ katanya sambil meletakkan kotak pensil itu di atas meja gue.

“ Makasih yah kak” lagi-lagi dibalasnya dengan senyumnya itu.

“ Lumayan. Jadi taruna pagi-pagi ” aku tertawa mendengar ucapannya sambil mengingatnya tadi memang mirip tentara yang sedang latihan halang rintang.

“ Udah sampe mana? Sini gue bantu. ”

“ Ngga usah kak biar gue aja” gue gelagapan karena dia sudah menarik beberapa lembar tugas gue dan menempelkannya diatas meja gambarnya.

“ Ngga pa-pa. 10 menit lagi jam sembilan loh. Kalau dikerjain berdua bisa selesai tepat waktu. Tinggal ngasih notasi doang kan? “

“…”

“ Dari tadi bengong melulu sih…” katanya sambil sibuk menulis di atas kertas gambar gue.Ah, seandainya saja dia tahu siapa yang ada dalam lamunan gue.

Gue semakin kagum. Ternyata dibalik keusilannya cowok ini baik banget. Jadilah pagi itu tugas gue bisa selesai tepat pada saat dosen masuk karena bantuan dia.




“ Keke!!!!” aduh ada apa ini? Siapa nih yang meluk-meluk gue dari belakang? Ngga liat apa kalau gue lagi khusyu berdoa? Cup!cup! eh..pake cium-cium lagi.Gue berbalik..Uhh…kirain siapa.

“ Rrrghh…eh monyong! Dosa tau ganggu orang lagi ibadah. Bisa gue laporin ke komnasham loh.” Kata gue kesel. Coba gue ngga ingat kalau dia sahabat gue, dari tadi gue tabok pake bantal.

“Ups..sori..sori, Ke. Gue lagi seneng banget. Tapi tadi itu udah selesai kan sholatnya? Tadi itu lagi berdoa kan?” Hhh..apalagi kalau dia udah masang tampang innocent kayak sekarang ini.

“ Seneng sih seneng. Tapi jangan main samber gitu aja dong? Lihat-lihat dulu kondisinya..” kata gue sambil melipat mukena yang udah lepas dari badan gue.

“ Iya..iya. Kan udah minta maaf “

“ Lagian…..Seneng kenapa juga sih sampe main cium-cium segala? Duh..kasian banget nih pipi gue “ ucap gue sambil pura-pura mengelus pipi gue.

“ Akhirnya, Ke. Gue bukan cuma tau namanya doang. Nama sih gampang, tinggal liat dibuku absen, udah, bisa tau deh.” Mukanya merah. Wah, kayaknya gue udah tau, nih anak lagi ngomongin siapa. Eh, tadi itu nyindir gue yah?

“Ke.. Gue ngobrol sama dia! Orangnya asyik banget yah,Ke? Dan yang bikin gue surprise..dia tau nama gue! ” Ohya?? Siapa sih yang ngga kenal elo? The perfect girl. Udah cantik, aktif di kelembagaan, ditambah lagi IP selalu diatas 3,5. Gimana ngga populer?

“ Oh…” balas gue males-malesan.”Trus…?”

“ Trus…yah gitu deh. Banyak yang kita obrolin mulai dari soal akademik sampai soal film. Ohya, ternyata dia juga suka nonton film loh. Sama yah ma gue?” Ye..itu kan hobi gue juga? Duh, lama-lama disini bisa bikin hati gue panas nih.Gimana caranya yah nyumbat mulut nih anak?

“ Gitu doang kok pake meluk-meluk en cium-cium gue segala.“ gue beranjak dari tempat tidur ngerapihin ikatan rambut gue di depan meja rias sambil mikirin cara buat ngusir nenek sihir yang satu ini.

“ Eh…jangan salah. Gue makasih banget sama elo. Karena gara-gara elo, gue bisa ngobrol sama dia” katanya dengan senyum genit yang bikin gue tambah jengkel itu.

“ a beg you pardon?”

“ Iya. Awalnya dia nyapa gue, nyariin elo?”

“ Nyari gue?” seketika kesal gue menguap. Ikbal nyari gue? Benarkah?

“ He-eh.Dia nitip sesuatu buat elo.” Kali ini gue tersenyum semanis mungkin di depan nenek sihir ini dan duduk didekatnya.

“ Apaan?” Hati gue berdebar kencang.

“ ehm…mana yah” gue penasaran lihat cewek ini merogoh-rogoh tasnya.“ Nah nih dia. Katanya ketinggalan pas kuliahnya bu shirly kemarin” katanya sambil mengacungkan rotring 0.5 dan senyum gue memudar.

“ Elo kok ceroboh banget sih? Rotring kan sekarang mahal banget? Untung ada kak akbal yang nemuin.” Mata cewek itu berbinar. Bikin gue jadi kesel lagi. Nih anak lagi mainin emosi gue yah?

“ Tapi makasih banget yah,Ke? Karena elo gue bisa kenalan sama kak Ikbal.” Duh gue ngga tahan lagi nih.

“ Eh..sori. Ngobrolnya dilanjutin besok aja yah ? Gue mo keluar nih”

“ Yah…Keke. Gue kan masih pengen cerita banyak tentang kak akbal? Emangnya mo kemana sih Ke?”

“ Jemput kiki di TPA. Mo ikut?”

“ Ngga ah.Gue pulang aja.” Gadis itu beranjak dari tempat tidur gue sambil ngeberesin tasnya.Dan pamit pulang. Gue tersenyum menang.

Untung aja ditengah kekesalan gue, gue bisa ingat kalau sahabat gue ini paling alergi sama anak kecil. Apalagi sama Kiki adik gue yang nakalnya memang minta ampun. He..he padahal si Kiki kan lagi pergi sama Bunda.





Sore ini gue masih harus ngegantiin Bunda lagi ngurusin tanaman-tanamannya ini. Duh kenapa sih Bunda pake-pake acara keluar kota segala? Padahal gue lagi malas banget ngapa-ngapain. Udah dua hari ini gue bad mood terus. Sejak si nenek sihir itu datang kemarin sore.

Tapi kalau gue ngga ngerjain tugas ini.Gue bisa bayangin kayak gimana marahnya Bunda besok ngelihat bunga-bunga kesayangannya layu tak terurus. Dan gue ngga mau kalau hal itu sampe kejadian. Kalau soal marahnya sih ngga pa-pa. Sudah biasa ini. Tapi kalau gue sampe dihukum ngga dikasi uang jajan sebulan? Waduh..malapetaka buat gue.Ya udah lah. Gue kerjain aja. Apa susahnya sih cuma nyiram doang. Ngga butuh waktu lama,kok.

Hhh..dasar nenek sihir. Pake muncul-muncul segala. Keselnya masih gue bawa sampe hari ini lagi. God, kenapa sih gue sama dia harus suka sama cowok yang sama? Kenapa sih dia ngga nyari cowok yang lain aja? Kan banyak tuh. Mo yang gantengnya kayak gimana juga bisa dia dapet. Gak bisa apa dia milih aja di antrian cowok yang ngegebet dia yang jelas-jelas lebih segala galanya dari Akbal? Kalau udah kayak gini, gimana coba?

“ Keke..keke!!” suara agak ngebas itu memutuskan lamunan gue.

“ Eh..yah?!” Duh…sekarang kok orang-orang pada hobi ngagetin gue? “ Eh..Arya? “ Ternyata arya tetangga gue datang sama cowok manis yang lagi senyum –senyum menyaksikan tingkah gue. Senyum yang ngga asing. Ikbal?!!

“ Heh! kasian tuh tanamannya, udah banjir kayak gitu?! “ ucap Arya lagi. Astaga…mati gue. Tanaman Bunda yang baru dia tanam udah ngga kelihatan. Gara-gara ngelamun gue keasikan nyiram sampe potnya kebanjiran gini. Gue gelagapan numpahin air yang ada dalam pot. Aduh..malu ini mo gue taruh dimana nih sekarang. Ada Ikbal lagi. Eh, kok dia bareng arya yah?

“ Ke…udah. Tanamannya ngga papa tuh.” Kata Arya lagi. Iya. Untung aja tanaman ini bisa diselamatkan. “ Nih..ada yang mo kenalan nih.” Ucapnya sambil menoleh pada cowok dibelakangnya.

“ Hai..Ke.”

“ Kak Ikbal?” balas gue ” Kok bisa bareng Arya?”

“ Alah..sama Ikbal aja sopan. Kak Ikbal..kak Ikbal. Seingat gue, gue sama elo tuaan gue deh, Bal. Gue malah di panggil Arya doang. Dasar jaim! Udah… Ikbal aja. “ Ye..kok malah dia yang sewot. Bikin gue keki aja.

“ Ke, Arya kan sepupu gue. Arya ngga pernah bilang? “

“ Oh yah?!” Gue surprise. Dasar Arya jahat. Ngga pernah bilang-bilang ke gue soal Ikbal.” Elo kok ngga pernah bilang ke gue sih Ya kalau Kak Ikbal tuh sepupu elo?“ Arya nyengir denger gue masih nyebut nama Ikbal pake embel-embel ‘kak’.

“ Ye…emang penting ya? gue mana tau kalo lo kenal sama KAK IKBAL ini.” Balasnya.” udah ah, gue balik. Tugas gue udah selesai kan? Jadi, lain kali jangan coba-coba usik ketenangan gue lagi ” ucapnya pada Ikbal lalu ngeloyor pergi.

“ Tadi lagi asik main PS.” Ucap Ikbal menjelaskan maksud kata-kata Arya. Dasar maniak PS!

“ E…kak Ikbal…” ucap gue memecah keheningan yang sempat tercipta setelah Arya pergi.

“ Ikbal saja ”

“ Eh..iya. Masuk yuk kak..eh,Ikbal” gue tersadar dari tadi gue biarin dia berdiri terus.

“ Kayaknya ngelamun udah jadi hobi yah, Ke? “ ucapnya setelah duduk di kursi teras rumah.

“ Eh..oh..ngga juga sih” Duh..ngga tau mo jawab apa nih.Gue malu banget. Memang udah beberapa kali dia mergokin gue bengong termasuk kejadian di kuliah Perancangan Permukiman pagi itu. Pasti menurut dia gue ini adalah cewek paling kurang kerjaan dan ceroboh sedunia.

“ Sore-sore gini kerjaan lo ngurus tanaman-tanaman ini, Ke? “

“ Ngga. Biasanya Bunda yang ngerjain. Kebetulan aja Bunda lagi keluar kota. Tanaman-tanaman ini ngga mungkin sesubur ini kalo gue yang ngurusin “ dia tersenyum mendengar ucapan gue. Oh God, gue berharap waktu berhenti saja.

“ Rotring 0.5 lo udah di elo? Kemarin gue ketemu sama…” Dia nyebut nama nenek sihir itu bikin gue jadi ilfil dikit. Jadi keinget sama ke bete-an gue sama cewek itu.

“ Udah di elo kan? “ tanyanya lagi.

“ Eh…iya. Kemarin sore dia datang.”

“ Oh ya? Dia sering datang ke sini? Kalian akrab banget yah? Kemarin gue ngobrol banyak sama dia. Dia baik yah Ke? Udah lama berteman sama dia, Ke? ” Loh kok malah ngomongin dia sih? Jadi akbal datang ke sini mo nanya-nanya tentang cewek itu? Duh God, kenapa sih kebahagiaan gue sore ini harus dirusak sama nenek sihir itu lagi. Please God, kali ini gue berharap waktu bergerak cepat dan sore ini segera berlalu.




Dia makin akrab aja sama Ikbal. Hari ini di kelas Interior mereka lengket terus kayak perangko. Pasti udah dekat banget sampai bisa bercanda berdua dan tertawa-tawa kayak gitu. Padahal baru seminggu yang lalu mereka kenalan. Gue ngga bisa ngapa-ngapain lagi. Perasaan gue juga udah ngga karuan. Gue mau marah tapi gue ngga bisa. Ngerasa ngga ada hak untuk marah. Dan memang kenyataannya seperti itu kan?

Bukan salah dia kalau ternyata dia kini lebih dekat dengan Ikbal. Salah gue kenapa ngga dari awal gue coba ngelupain perasaan ‘kagum’ gue ini sama cowok itu. Gue sudah tahu pasti bakal kayak gini kejadiannya. Tapi gue malah nerusin semua ini. Gue jatuh cinta kah sekarang? Ini yah yang namanya jealous? Ternyata sakit banget yah? Sesak banget rasanya di sini. Di dada ini. Gue rasanya udah pengen nangis.

Mungkin akan lebih baik kalau gue ninggalin tempat ini. Dari tadi kepala gue juga udah puyeng. Gue harus buru-buru ngeberesin kertas-kertas yang masih menempel di meja gambar dan mistar-mistar ini sebelum dosennya keburu datang dan gue bisa kehilangan kesempatan untuk kabur. Tapi, pusing kepala gue ngga bisa kompromi. Gue jatuh terduduk di kursi. Dan kelihatannya mereka terusik karena gue dengar tawa mereka terhenti.

“ Ke, kamu kenapa? “ dari belakang dia menghampiri gue diikuti Ikbal. “ Muka kamu pucat banget,Ke? “ ucapnya lagi terdengar khawatir. Tuhan, jangan biarkan tanggul ini bobol di depan mereka. Jangan biarkan semua ini mempermalukan gue.

“ Ngga pa-pa. Gue ngga papa. “ Gue berdiri lagi sambil memasukkan semuanya ke dalam tas secara sembarangan.

“ Benar ngga pa-pa, Ke? “ Ikbal menyentuh lengan gue. Ada nada khawatir dalam suaranya yang saat ini terdengar sangat lembut itu. Tuhan, kumohon. “ Gue antar yah? Kebetulan gue bawa mobil “ ucapnya lagi lalu mengambil tas gue.

“ Ngga usah. Makasih “ Tas itu buru-buru kurebut dari tangannya dan bergegas pergi dari tempat itu diiringi tatapan heran dua orang yang gue sayangi itu.

“ Tapi,Ke. Di luar kan hujan Ke?” Masih sempat gue dengar teriakan sahabat gue itu. Gue ngga peduli lagi. Gue berjalan menyusuri koridor. Dan akhirnya air mata gue sudah tak terbendung. Biarlah. Gue ingin puas menangisi semua hal yang terjadi sama gue. Takkan ada yang tahu. Karena air mata ini tak ada bedanya dengan air hujan yang mengguguyur tubuh gue sore ini. Tuhan, biarkan hujan ini mencairkan sakit yang gue rasain.




Pagi ini gue bangun tidak seperti biasanya. Kali ini gue terbangun dan duduk di tempat tidur gue sejak semalam di sebuah ruang rawat inap di rumah sakit. Tepat jam 12 tadi malam, demam gue ngga turun-turun malah makin tinggi padahal obat penurun panas sudah gue minum sejak sore. Bunda berkali-kali mengganti air kompresan tapi panasnya ngga turun-turun juga. Gue merasa bersalah karena sudah membuat beliau jadi tidak tidur semalaman karena mengkhawatirkan kondisi gue yang didapatinya mengigau di atas meja belajar. Salah gue karena memaksa diri untuk pulang dari kampus kemarin sore padahal hujan turun deras banget.

Yah, gue jadi ingat lagi soal kemarin sore. Dasar bodoh. Yang ada malah gue yang rugi dengan ketololan gue sore itu. Gue ngga bakal ada di tempat ini kalau saja gue ngga sebodoh itu. Ngga bakal bikin Bunda jadi panik seperti semalam.

Tapi setidaknya ketololan itu bisa membuat sakit gue lebih mendingan. Bukan sakit di fisik gue. Tapi sakit yang lainnya. Bener juga. Ternyata menangis bisa sedikit lebih meringankan rasa sakit itu. Kesal itu berkurang, marah itu berkurang, dan sedih itu berkurang. Meskipun ngga sampai hilang. Karena, gue masih merasakannya hingga saat ini.

Tuhan seandainya saja waktu dapat diputar ulang, gue ingin kembali ke saat-saat gue ngga sedang merasakan sesuatu yang beda pada seseorang .Rasa kagum, cinta atau apapun istilahnya. Saat gue ngga pernah mempermasalahkan kelebihan-kelebihan sahabat gue dibandingkan dengan gue karena seorang Ikbal. Mungkin bisa di kabulkan. Tapi kedengarannya tidak realistis.

Kalau begitu, Tuhan hari ini gue sangat berharap sesuatu yang terjadi antara gue, sahabat gue dan cowok itu bisa selesai hari ini. Apapun caranya. Dan apapun ketentuannya. Dengan tulus gue akan terima demi berakhirnya semua ini. Gue ikhlas apapun itu.

“ Keke sayang…. ” Duh…kayaknya kebiasaan baru nih anak ngagetin orang pake cara meluk meluk deh.

“ Hai…” sapa gue pelan sambil pelan-pelan juga melepaskan pelukannya.

“ Keke maafin gue…” dia memeluk gue lagi. “ kenapa lo ngga pernah bilang sih sama gue? ” ucapnya lagi masih memeluk gue. Gue bingung. Nih anak lagi ngomongin apaan sih.

“ Kenapa elo ngga bilang kalau elo tuh suka sama Akbal sih, Ke? Gue kan sahabat lo? Kita kan sahabatan udah 3 taon. Kenapa elo ngerahasiain itu dari gue? ” ucapannya kali ini bikin gue ngeh. Gue kaget. Kok dia tahu? ”

“ Elo.. tau darimana? “

“ Kalo elo jujur kan ngga bakal kayak gini kejadiannya. Pantesan sikap elo akhir-akhir ini ke gue jadi lain.” Ucapnya ngga ngegubris pertanyaan gue.

“ Apa bedanya? Dan kenapa elo minta maaf? “

“ Yah bedalah. Gue salah karena selama ini ternyata gue ngga sadar malah jadi penghalang antara elo sama Ikbal “

“ Penghalang? Maksudnya? “

“ Ke, Ikbal tuh suka sama elo.”

“ Apa?! “ ngomong apaan lagi sih nih anak? Tapi jantung gue berdebar-debar nih. Awas aja kalau mainin emosi gue lagi.

“ Ke, selama ini dia dekat sama gue karena apa coba? Karena pengen ngorek segala sesuatu tentang elo. Awalnya memang gue sempat kegeeran. Sampai kemudian dia terus terang ke gue soal perasaannya ke elo tuh kayak gimana sejak semester lalu.” Ada yang terasa sejuk di hati gue.Tiba-tiba gue ngerasa kalau cewek didepan gue ini adalah cewek paling baik dan tulus sedunia “ Hanya saja kemarin sore saat ngelihat sikap elo yang aneh kayak gitu entah firasat darimana gue tiba-tiba yakin kalo elo tuh juga sayang sama Ikbal. Dan gue ngerasa sudah waktunya dia ngomong ke elo.” Dia tersenyum seolah meyakinkan gue kalau semua yang dia ucapin itu benar.

“ Iyakan, Ke? Elo sayang kan sama dia? “ tanyanya lagi. Gue menganggukkan kepala pelan.

“ Elo gimana?”

“ Gue? Gue ngga papa. Awalnya gue emang sempet kecewa sih.But you are his choice. Cinta tuh ngga bisa dipaksain. “ Yap. You are really really a perfect girl. The best-bestfriend that I’ve ever had.

“ Maafin gue , Ke.” Dia memeluk gue lagi “ Maafin gue lagi yah karena ngga sengaja gue lihat curhat elo di kertas buram di atas meja belajar elo.”

“ What?!! “ serta merta gue melepas pelukannya.

“ Maaf. Ngga sengaja. Sebelum kesini gue ke rumah elo. Nganter kertas gambar elo yang ketinggalan kemarin sore. Tadinya sekaligus mo ngejelasin soal ini. Tapi ternyata lo udah di rumah sakit.”

“ Tapi kan lo bilang..”

“ Iya. Bener kok emang gue ngerasain firasat itu kemarin sore. Tapi kertas buram itu yang semakin meyakinkan kebenaran firasat gue “

“ Duh…jadi orang kok gue ceroboh banget sih?!! “

“ Kecerobohan yang membahagiakan kan? ” Ucapnya menggoda gue. “ih..muka keke merah tuh…” Kali ini gue benar-benar menimpuk sahabat gue ini pake bantal.

“ Ke…dia datang bareng gue loh…” bisiknya ditelinga gue.

“ Apa?!! “ gue shock. “boong!” Akbal bentar lagi ke sini dan ngelihat kondisi gue yang baru bangun tidur kayak gini?!

“ Gue ngga boong. Dia nebus obat elo dulu. Karena nyokap lo ngga sempat nebus tadi pagi “ dia senyum-senyum lihat gue panik sendiri.

“ Duh kenapa sih dia pake acara datang kesini segala sih. Duh..gimana nih pasti gue kelihatan ngga karuan banget kan? Dasar cewek ngga berperasaan. Kok ngga bilang dari tadi sih.?!!”

“ Keke..keke..sini deh.” dia menarik badan gue yang udah kebingungan mau ngapain lalu merapikan rambut gue “ Sisiran dikit juga udah kelihatan cantik kok. Kayaknya dikuncir lebih rapi yah? Sekarang .............”

Terima kasih Tuhan, karena harapan gue engkau kabulkan. Sesuatu yang terjadi antara gue, sahabat gue, dan cowok itu kau akhiri hari ini. Akhir yang membahagiakan. Sekarang gue yakin ketulusan dalam bentuk apapun akan melahirkan kebahagiaan.













You Might also Read

Related Posts with Thumbnails