Tuesday, April 7, 2009

What Friendship Means (The 4th letter for ANARKHYS)

Dear Herwin a.k.a Ewin


What friendship means??

Adalah ketika ia menyambut uluran tanganmu yang berdebu…

Adalah ketika ia memanggil namamu dengan tegas..

Adalah ketika ia mengingat mu di pagi hari…

Adalah ketika ia mendengarkan suara sumbangmu..

Persahabatan adalah…

ketika ia memberimu ruang dihatinya tanpa syarat apapun


Sahabatku…

Aku mengenal kamu dengan sejuta kelebihan yang kamu punya .Dalam sekejap kita bisa berteman. Menjadi bagian dari hari-harimu sementara aku merasa tak pantas. Tak cukup hanya dengan takjub bisa mengalami hal itu. Walau berulang kali aku mencoba mengingkari. Tapi hal itu memang nyata. Dan mengenalmu merupakan keajaiban yang tidak ternilai dengan apapun.



What friendship means??

Adalah ketika ia tahu apa warna favoritmu atau apa musik kesukaanmu

Adalah ketika ia mendengarkan keluhanmu…

Adalah ketika ia melupakan kesalahanmu

Adalah ketika ia tak peduli kekuranganmu

Persahabatan adalah…

ketika ia mencoba memahami segala tentang mu


Sahabatku…

Memang tak cukup lama bagi kita saling mengenal ketika akhirnya menjalin persahabatan mereka. Namun proses saling tahu itu terjadi dalam rentang kebersamaan kita. Dan tak butuh banyak waktu bagimu untuk itu sejauh yang kulihat. Karena kurasakan hubungan itu begitu manisnya.



What friendship means??

Adalah ketika ia marah saat kau terluka..

Adalah ketika ia bahagia saat kau tersenyum…

Adalah ketika ia sedih saat kau menangis…

Adalah ketika ia terharu saat kau memujinya…

Persahabatan adalah…

ketika ia mencoba menjadi dirimu


Sahabatku…

Begitu banyaknya pelajaran yang kudapatkan dari semua kita jalani bersama. Kita berbagi semua hal yang kita miliki. Sempat terlintas di benakku…’betapa tidak adilnya ini’ aku hanya membawa sedikit untuk di bagi dibandingkan dengan kamu. Tapi kamu tak sedikitpun merasa ada yang aneh dengan itu. Dan kamu semakin menjadi sosok yang sempurna di mataku.

Setiap hal yang aku lakukan bersama kamu dan mereka kucatat sedetail mungkin di kepalaku. Semua karena aku tak ingin melupakannya. Kebanggaan yang tak terbatas ketika memiliki kamu dan mereka.

Aku bahagia. Aku sangat bahagia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kalian. Sejuta kalipun aku masih tetap mau mengucapkannya bahwa aku sangat bahagia. Bahkan semua itupun sebenarnya tak cukup.

Hari itu adalah hari biasa. Ketika aku melihatmu menjadi beda. Kamu yang mencari suasana baru semakin menjauh. Dan lambat laun mereka pun juga melakukan hal yang sama. Aku pernah berharap cukuplah itu hanya sebuah mimpi. Tak boleh lebih dari itu. Namun, aku tak senaif itu untuk kemudian tak mau mengakuinya.

Tak banyak yang dapat kulakukan lagi untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Karena jarak semakin lebar membentang.

Kamu tahu? Itu sangat sakit rasanya ketika sesuatu yang berharga itu kemudian hilang.

Namun bertahun-tahun hingga kini sakit itu perlahan hilang menyisakan begitu banyak kenangan di benakku. Kenangan atas pelajaran berharga yang pernah kau berikan.


Sahabatku…

Terima kasih atas kebanggaan yang kau berikan atas persahabatan kita…



What friendship means??

Adalah ketika ia memberimu ruang dihatinya tanpa syarat apapun….

Adalah ketika ia mencoba memahami segala tentang mu

Adalah ketika ia mencoba menjadi dirimu

Adalah ketika ia menunggumu kembali saat kau pergi

What friendship means??

Adalah ketika ia membaca suratmu dengan seksama dan akhirnya tersenyum


With Love
Sahabatmu,

Sunday, April 5, 2009

Dia Adik Kecilku...Dia Sahabatku (The 3rd letter for ANARKHYS)

Dear Kica a.k.a Icca’ a.k.a icha


Sahabatku…
Sebagai pembuka aku ingin menyatakan bahwa ini adalah sebuah untaian
kalimat yang sengaja ku kirimkan padamu untuk membawa ingatanmu kembali
Pada salah satu fase hidup mu…fase hidupku juga…


Sahabatku…
Perasaan bahagia dan senangku begitu membuncahnya ketika menulis surat ini.
Kuharap hal yang sama juga pada kamu. Semua itu karena aku tahu kehidupan mu saat ini sungguh amat sangat jauh lebih baik.


Sahabat…
Aku ingat ketika itu kamu hadir sebagai sosok kecil yang lucu.
Saking lucu nya tak tahan setiap kali melihatmu aku dan mereka mengacak-acak rambut mu yang waktu itu masih setia dengan poni lempar khas anak-anak.

He..he.. sosok kecil yang slalu sok dewasa. Yahh…kita memang baru masuk SMP waktu itu.

Sahabatku….
Betapa bangga pernah mengenalmu.. bangga pernah menjadi bagian dari keseharianmu.
Bangga pernah memiliki satu komitmen bersama dengan mu. Bangga atas apapun yang ada pada kamu.

Sahabatku…
Aku ingat waktu itu kaki mu saja masih tak cukup sampai untuk menekan persneling .
Tapi sudah sok jadi pembalap dengan motor kamu yang knalpot nya di paksa jadi rocker itu. Membuat stress orang-orang ketika kamu melintas.
Tapi bagiku itu justru begitu menggelitik, membuatku tak bisa menahan tersenyum.
Dan dengan bangga nya mengatakan pada mereka “ itu teman aku. Itu sahabat aku” .
Mereka mencibir. Menatap aneh padaku. Aku hanya tersenyum dan berkata dalam hati “ kalian yang aneh”.

Hmmm… kamu memang selalu ingin tahu apa saja. Tak peduli aral melintang. Dan toh kamu selalu berhasil. Seperti keberhasilan kamu menyatukan kita dalam
satu ikatan dengan mereka.

Sahabatku…adik kecilku…

Ingatkah kamu, berdua kita pernah bersama mereka berada dalam satu perahu mengarungi lautan luas bergantian mengayuh. Meski dengan perahu kecil kita dapat melawan kerasnya hantaman gelombang. Badai itu pun selalu berlalu.
Walau terkadang kita harus menepi dulu ketika kita kelelahan.
Atau sekedar bersandar pada karang. Kamu ingat?? Toh kita dapat bertahan…
Sampai akhirnya perahu kita dihempaskan oleh riak… riak…hanya riak…yang tak sebanding dengan ombak besar yang pernah kita lalui…

Mengapa? Hingga hari ininpun aku masih tak tahu apa jawabannya…


Sahabatku…

Aku tak pernah melupakan saat-saat mengerjakan tugas sekolah bersama, saling contek- mencontek PR yang diselingi dengan guyonan-guyonan khas abg dan kita pun tertawa bersama, atau kita menyisihkan waktu sepulang sekolah untuk berkumpul di salah satu rumah di antara kita bertujuh melakukan banyak hal meski hanya sekedar mengobrol, saling mengusili satu sama lain, atau makan-makan seadanya. Atau keliling kota melakukan konvoi kecil dengan motor kamu dan yang lainnya.


Aku tak pernah melupakan perasaan gelisah ketika salah satu dari kita ada yang tidak masuk sekolah tanpa memberi kabar. Perasaan khawatir saat ada diantara kita yang sakit. Perasaaan marah, kesal, dan geram ketika salah satu dari kita disakiti.


Aku tak pernah melupakan perasaan hangat ketika kamu dan mereka dengan tegas menyebut nama ikatan itu diiringi kalimat “Friendship Never End”


Sahabatku…

Meskipun hari hari itu mungkin tidak akan pernah datang lagi. Meskipun semua rasa itu mungkin tak akan pernah kurasakan lagi. Aku hanya ingin kamu tahu. Aku menyayangi kamu. Menyayangi persahabatan kita dulu. Menyayangi dengan segala yang kumengerti tentang kamu dan mereka.


With Love
Sahabatmu,

Saturday, April 4, 2009

We named it as friendship (The 2nd Letter for ANARKHYS)

Dear Aan…


Waktu bergulir begitu cepat, begitu cepat nya sampai aku tidak dapat mengendalikan

ingatan tentang kamu. Dan kamu tahu , semua itu kini saling berlomba di kepalaku untuk di ungkapkan. Tak tahu mana yang didahulukan ….

Padahal butuh waktu bertahun-tahun untukku kemudian mampu merangkai kalimat-kalimat di atas kertas ini…

Dulu….


Ada kamu..

Ketika pagi pagi aku menginjakkan kaki ke tanah merah dimana tumbuh begitu banyak pohon ketapang yang setiap pagi pula menguras tenaga kita tuk memungut satu persatu daun-daunnya yang berguguran.


Ada kamu..

Saat bingung dengan berbagai pertanyaan di benakku. Rasa ingin tahu yang begitu besar akan sosokmu yang tidak begitu banyak bicara. Penasaran meskipun bagi orang-orang tak ada yang menarik di sana tapi bagiku kamu berbeda…


Ada kamu…

Waktu berjalan beriringan bersama mereka menuju kantin sekolah yang sempit dan pengap dengan hidangan seadanya berupa mi instant dan gorengan. Tapi anehnya terasa begitu nikmatnya ketika bersama kamu dan mereka.


Ada kamu …

Ketika melakukan segala hal bebas tanpa kompromi mengandalkan kesombongan dan ego yang kita anggap semata-mata untuk menunjukkan eksistensi kita di tengah-tengah orang lain. Dan akhirnya sama-sama menerima resiko hukuman. Tapi kita merasa itu begitu hebat.


Ada kamu….

Saat aku menangis. Saat aku kecewa. Saat aku tertawa. Di semua hal yang terjadi di setiap hari-hariku.


Ada Kamu

Waktu dengan gagah nya aku, kamu dan mereka dengan lantang meneriakkan bahwa inilah kita. Inilah komitmen kita. Inilah persahabatan kita. Dan orang-orang pun menatap iri dan kagum.


Sahabat ku….

Aku ingat pertama kali mengenal kamu di sekolah adalah ketika melihat daftar nama siswa baru. Anggie Hidayat. Memang tak ada yang istimewa. Sebuah nama itu sempat tak singgah lagi di kepalaku. Berbulan-bulan pun berlalu dengan pertemanan biasa sampai akhirnya aku mengenal kamu dengan baik. Kamu memang beda. Aku mengagumi kamu saat itu juga ketika menyadari itu. Seolah tanda kalau suatu saat kamu akan jadi bagian dari hidupku.


Sahabatku…

Tahukah kamu betapa bahagia nya aku ketika setahun kemudian kita menjadi dekat. Banyak aktivitas yang kita lakukan bersama hingga kemudian memutuskan untuk membentuk suatu ikatan yang bernama persahabatan. Tentu saja bersama mereka juga.

Tahukah kamu betapa berharganya semua itu bagiku. Ketika kamu menganggap aku sebagai bagian dari dirimu??

Tahukah kamu sekian hal yang kamu lakukan tak luput dari perhatianku hingga segala hal tentang kamu slalu kucatat baik-baik di kepalaku agar aku tak lupa.

Tahukah kamu kalau aku ingin slalu ada ketika kamu butuhkan…

Begitulah adanya aku dan kamu…..


Sahabatku…

Suatu siang mendung…beberapa tahun kemudian…

Saat itu langit begitu gelap dan aku mendengar kamu mengingkari semua itu. Aku bukan tidak pernah bisa menangkap gejala itu. Aku telah tau semuanya jauh sebelumnya. Tapi aku tak mau mengakuinya

Kamu memutuskan ikatan itu. Semua yang pernah kita lalui bersama-sama seperti tak ada artinya lagi. Dan yang tak aku sangka semua terjadi dengan alasan karena kamu merasa telah jauh berbeda. Kita memang sudah tak sejalan. Perbedaan itu telah menciptakan jarak berjuta-juta mil jauhnya di antara kita.

Dan aku begitu tak berdaya.

Mendung siang itu berubah menjadi titik-titik air seolah ikut menangisi semua yang terjadi pada kita.

Sahabatku…

Waktu bergulir begitu cepat, begitu cepat nya sampai aku tidak dapat mengendalikan

ingatan tentang kamu. Dan kamu tahu , semua itu kini saling berlomba di kepalaku untuk di ungkapkan.

Butuh waktu bertahun-tahun untukku kemudian mampu merangkai kalimat- kalimat ini….

Semua karena aku tak bisa ikhlas melepaskan kamu…

Semua karena aku terlalu menyayangi kamu…

Semua karena aku mencintai persahabatan ini…

Aku merindukan semua kisah kita…

Kisah yang kita namakan Persahabatan...

.


With Love
Sahabatmu,

Tentang Kamu, Kita, dan Mereka (The 1st letter for ANARKHYS)


Dear Anas…

Ada pepatah orang bijak mengatakan : “ Don’t judge the book by its cover”…

Hmmm.. kamu tau tidak?? Ketika pertama kali mengenal kamu yang ada di benak aku hanya ada kalimat “ betapa sombong nya orang ini” atau “ sok nya ni orang “ dan tak secuilpun keinginan untuk dekat apalagi untuk mengenal kamu lebih jauh lagi.


He..he.. maaf ya nas, memang itulah kenyataannya…


Dan kenyataan yang sebenar-benar nya kenyataan adalah:


Tentang kamu dan aku :

Awalnya aku tak begitu mengenal kamu dan lebih-lebih kamu terlihat tak begitu respek. Tapi ada orang-orang yang kemudian mengantarkan kita untuk kemudian mencoba saling mengenal. Dan akhirnya aku tahu bagimu aku tak seperti orang lain. Bagimu aku lebih dari apa yang kukira slama ini. Aku menjadi bagian dari kehidupan mu. Dan tahukah kamu sejak itu semua hal dari dirimu ku jadikan sebagai pelajaran dan mencoba memandang semua hal dalam hidupku seperti yang kamu lakukan.


Tentang kamu dan mereka :

Ada mereka bersama kita. Kamu slalu ada untuk mereka. Ketika harus mengalah kamu akan mengalah. Meski smua itu tidak kau tunjukkan melalui perkataan. Tapi mereka tahu itu. Kehadiran kamu di antara mereka tek sekedar teman berbagi materi.. teman berbagi kebebasan… teman berbagi kesulitan…teman berbagi apapun yang mereka punya.. Tapi lebih dari itu… Mereka merasa memiliki kamu sebagai harta yang paling berharga. Dan ada aku juga di antara mereka.


Tentang kamu dan ‘dia’ :

Kamu menyukainya. Kamu menyatakan itu. Namun dia menyakiti kamu.Dan justru senyum yang terukir di sana. Hati kamu terbuat dari apa?? Melihatmu diperlakukan seperti itu saja aku sudah tak sanggup. Apalagi ketika harus merasakan hal yang sama. Tapi kamu masih bisa tersenyum. Semua itu seolah-olah tak ingin kau bagi denganku.
Sungguh… kamu seperti batu karang nas. Sekeras apapun ombak menerjang kamu tetap saja kokoh berdiri… Bagimu, di dunia ini tidak ada yang sulit…


Tentang kamu dan orang-orang disekitar kita:

Kamu seperti burung. Terbang bebas dan hinggap dimana-mana. Memperdengarkan kicauannya tanpa memandang tempat seperti apa itu. Meski di pohon yang tak rimbun dengan dahan yang seadanya kamu tetap riang berceloteh. Tak pernah merasa bingung akan dimana seharusnya kamu berada. Itulah kamu. Selalu ada tempat untuk kamu di antara orang-orang di sekitar kita.


Aku telah salah menilaimu…

Dan sejak itu kekagumanku padamu terlampau besar melebihi apapun juga…


Dan kagum itu semakin tak terbendung lagi ketika akhirnya kita berada dalam satu bingkai yang kita namai dengan satu nama yang kelak menjadi jembatan hidup mu.. Nama itu kamu pasti tahu. Sebuah nama yang mengisi hari-hari kita dalam satu rentang waktu. Bukan hanya sekedar nama. Tapi ada kisah di dalam nya yang tak bisa terbayarkan dengan apapun. Bingkai itu diisi dengan potret-potret kebersamaan kita dengan mereka.


Namun ketika bingkai itu terjatuh dan pecah . Aku tahu kamu mencoba mengumpulkan dan memperbaiki keping-keping nya yang berhamburan. Ku tahu itu sia-sia. Terlalu banyak puing-puing yang hilang.


Sahabatku,

Untuk melihat bingkai itu utuh kembali sudah tak mungkin lagi.

Dan biarlah seperti itu adanya. Tapi aku tahu kamu masih menyimpan bagian dari kepingan itu. Tahukah kamu kalau diam-diam akupun demikian.

Maafkan karena aku mengambil kepingan yang terbesar yakni kenangan akan kisah kita semua yang kini tersimpan rapi di tempat teristimewa


With love
Sahabatmu,

Thursday, April 2, 2009

Resah

Resah

Dari dulusampai saat ini

Tak saling mengerti..

Sejak semuanya.berhenti

Aku dan kalian

Kita dan mereka..

Tidak ada.

Tak terlihat

Tanyakan pada kita

Mengapa dan bagaimana

Tanyakan pada mereka

Apa dan kenapa

Kita menjawab.entahlah

Mereka menjawabentahlah

To : my anarkhys.the best thing that Ive ever had

Ditengah hujan berkabut

27 juni 2002

Di tengah Hujan Berkabut


Aku dikelilingi mereka…

Di tengah hujan berkabut..

Kuucap…berjanji…

Aku menata..

Aku memoles…

Angkasa untuk mereka

Tiba-tiba matanya memerah

Lalu ada telaga…

Deras…

Tak ada beda…

Dengan Hujan

Hujan reda….

Mereka pergi…

Berganti…

Tubuhku basah…lalu kering…

Tapi mataku basah lagi…

SEPENGGAL WAKTU

Masa tlah berganti

Kamu dan mereka pun sama berubah

Sekilas……tapi ada….

Sia-sia saja tergelak

Bila tau ada sakit di dada

Sungguh ada sesal tak kunikmati sepenggal waktu itu

Andaikan aku merekamnya

Mungkin kuputar terus menerus

Takkan kubiarkan berhenti

Ada sepanjang waktu bukan hanya sepenggal saja

Semestinya tak kulepaskan

Tetap bertahan walau semua itu tak kuinginkan

Sehingga…Sepenggal waktu ini

tak pernah ada…



saturday night on desember 01...
to the 2nd... so near but so far


You Might also Read

Related Posts with Thumbnails