Wednesday, April 7, 2010

Cinta Pertamaku , Cinta Tanpa Kriteria, Cinta Tak berSyarat


Aku berusia 17 tahun saat itu. Aku nakal, pemarah, manja berlebihan, sok tahu dan suka mengucapkan kata-kata yang pedas pada  orang-orang rumah terutama pada adikku yang  setahun lebih muda dariku.  Adik laki-laki yang sifatnya sangat bertolak belakang denganku. Ia  tenang, sabar, dan sangat pengertian. Terutama bila menghadapiku yang selalu bersikap jutek  dan tidak segan-segan  membentaknya dengan kata-kata kasar bahkan kotor . Tapi dia masih mau menjemputku sepulang sekolah. Meski seringkali aku meninggalkannya  tanpa memberitahunya, membiarkannya menunggu. Dan ketika ia tiba dirumah, dengan wajah pucat karena panik ia bertanya apa aku tidak apa-apa. Tidak marah ketika laptop kesayangannya kurusak dan menghilangkan file-file penting tugas sekolah di dalamnya. Entah terbuat dari apa hatinya, begitu susah ku buat dia jengkel padaku. Padahal itu keinginan terbesarku. Sedang aku, aku adalah makhluk jahat yang tak lebih baik dari monster  yang kerjanya mengamuk tiap hari, bila keinginanku tak dituruti.  Tak jauh beda kelakuanku pada ibu. Kebohongan-kebohongan besar pun kerapkali kulakukan pada ibu.  Meski tahu itu, ibu hanya diam dan berkata :

gambar di upload dari sini

 “ mama mencintaimu” mengusap rambutku ketika  aku marah lalu mencium keningku,
           “Tolong jangan seperti ini, katakan pada mama, mama ingin membantumu ” dan kutepis tangannya lalu berkata sinis padanya,
                        “mama menyesal menjadi ibu ku? Aku tak pernah minta mama jadi ibuku. Berhentilah peduli padaku. Aku tak pernah minta itu dan aku begitu berharap mama mendengarnya dengan jelas dan percaya bahwa memang seperti itu maksud perkataanku. Pernah suatu malam aku menangis dipangkuannya, aku bertanya ” mengapa mama  tak pernah benar-benar marah padaku? mengapa mama mencintaiku? ” dan dia menjawab,
                                                                              “mama tak tahu”. 

Di luar rumah aku berbeda, aku adalah anak yang baik. Unggul di sekolah dan menjadi pemimpin di banyak kegiatan dan organisasi. Itu caraku untuk mengatakan bahwa aku ingin semua sesuai dengan keinginanku. Aku yang ingin mengatur segalanya. Strategi halus menutupi ambisiku untuk menguasai dan mengatur semua orang.  Entah mengapa, butuh waktu yang lama untuk ku menyadari bahwa begitu banyak orang telah kusakiti. Aku tak mengenal kompromi,  pun ketika teman-temanku menjauh satu persatu. Aku tak merasa apa-apa dengan itu. Aku hanya tahu, aku senang menyakiti. Aku selalu ingin membenci.  Dan itu seperti candu bagiku. Setiap hari tak ingin berhenti kulakukan. Baru akan merasa puas jika semua keinginanku untuk membenci dan menyakiti terpenuhi.
Setiap malam, ketika seisi rumah sudah pulas. Aku masih terjaga. Sibuk bertanya pada diriku. Apa alasanku berbuat seperti ini? Mengapa aku selalu menyakiti adikku yang selalu baik padaku? Mengapa aku menyerang mama yang selalu peduli padaku? Mengapa aku bersikap sinis pada teman-temanku yang tak sepaham denganku namun tetap mengajakku bermain? Mengapa? Mengapa aku membenci semua orang dalam kehidupanku? Semuanya berputar-putar di kepalaku sampai aku lelah dan tertidur. Begitu setiap malam. Namun besoknya aku melakukan kejahatan itu lagi.   Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya suatu malam membuatku menjadi gila karena tak bisa berhenti memikirkannya.  Aku lalu pergi, mengendarai mobilku dengan kecepatan yang aku sendiri tak mengingatnya karena tiba-tiba saja aku sudah berbaring dengan  hanya panca indera ku saja yang bekerja. Seluruh tubuhku lumpuh karna benturan keras dikepalaku.  Disebuah tempat serba putih dengan ibu dan adikku disamping pembaringanku. Entahlah, ini kali pertama aku menikmati rasa syukur. Bersyukur  bahwa otakku masih bekerja,  aku masih mengenali mereka. Masih mengenali ibu.
Aku tak ingin lagi menyakiti orang lain. Aku tak akan lagi membenci orang lain. Aku kini tahu jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan itu. Aku melakukan itu karena aku benci pada diriku sendiri. Kebencian yang kulampiaskan pada orang lain. Sakit yang ingin kutularkan pada semua orang disekitarku. Aku menyadari itu.
Aku menatap mata ibu yang kuyu dan lelah. Menguatkanku dengan senyuman yang tak pernah hilang diwajah putihnya yang mulai terlihat tua.  Jelas sekali kurasakan begitu besar harapan dalam doanya akan kesempatan hidup untuk seorang bocah kecil yang ditemukannya di depan  rumahnya  14 tahun yang lalu ditengah hujan lebat.  Duduk bersandar pada tembok pagar rumah. Menangis.  Ketakutan. Kedinginan. Aku, anaknya.
Aku anaknya. Bukan yang lain selain itu. Dan yang paling penting atas segalanya, untuknya,  bahwa  dia ibuku.  Aku yakin tak banyak anak sepertiku yang mendapat ibu seperti dia. Aku teringat amarahku, kata-kata kasarku, kebohonganku dan kelicikanku. Berapa banyak yang sanggup bertahan, tak tergoyahkan, tak terdesak sedikitpun, tak lelah, sampai ke batas petualanganku yang aku sendiri sudah menyerah. Justru menopangku yang terjatuh tak berdaya dengan cinta kasih. Berapa banyak ibu yang seperti itu? Berapa banyak orang yang seberuntung aku? Aku merasakan cinta itu begitu dahsyatnya. Aku merasakan cinta itu bebas menembus hatiku tanpa terhalang apapun. Cinta itu kurasakan mengalir dalam darahku, di tubuhku yang tak bisa bergerak. Cinta pertamaku. Cinta Mama. Cinta Ibuku. Cinta tanpa kriteria. Tanpa syarat.

Aku tak pernah memintanya jadi ibuku. Memang tak pernah. Tapi Allah teramat mengasihiku dengan menghadiahkannya padaku untuk seumur hidupku. Dia ibuku. Dia Ibuku. Dia Ibuku. Selamanya akan tetap jadi ibuku.


Bahwa kalian yang ditakdirkan lahir tak mengenal ayah ibu kandung kalian.
Bahwa  kalian yang kemudian tahu kalian anak angkat.
Bahwa kalian yang merasa marah dan kecewa karena  itu.
Bahwa kalian yang kemudian menghabiskan waktu mencari orang tua yang tak ‘menginginkan’ kalian.
Bahwa kalian yang harus pernah dikandung 9 bulan oleh seseorang sehingga baru menyebutnya ibu.
Bahwa kalian yang tak sadar bahwa ibu yang sebenarnya adalah ketika ia bisa mencintaimu tanpa kriteria, tanpa syarat.

Postingan ini untuk kalian, curhatan seorang teman saya yang berstatus anak adopsi yang pernah merasakan hal yang sama. Yang beruntung bisa lepas dari beban-beban itu. Yang kini bisa menikmati nafas hidupnya bersama ibu dan adik angkatnya (dua orang yang sama sekali tak punya hubungan darah dengannya). 


*hayoo....apa smua dah jadi anak tanpa syarat?? hehehe..



41 comments:

  1. meski status adopsi, dia juga pasti sangat bersyukur sudah punya keluarga ^^

    salam kenal juga

    ReplyDelete
  2. keren2 bersyukur aku
    saat ini aq juga lakuin yang terbaik untuk orang tuaku...

    ReplyDelete
  3. thx 4 share...

    cinta seorang ibu, memang tak tergantikan
    apapun status kita..

    pagiii
    have a nice day ^^

    ReplyDelete
  4. jadi terbawa suasana nih. .
    met pagi aja ya. .

    ReplyDelete
  5. selalu menyenangkan jika bercerita tentang ibu,
    beliau, yang meskipun ibu angkat, tentunya tidak pernah berkurang kasih sayangnya....,, ;D


    salam,

    ReplyDelete
  6. cinta dan kasih Ibu memang sepanjang masa... cinta yg tanpa kriteria dan persyaratan

    ReplyDelete
  7. cinta tak perlu darah untuk memberinya.. *wew, keboo sendiri bingung arti kalimat ne apa*
    bener, cinta seorang ibu tak perlu alasan,anak angkat tetaplah anaknya.
    semangat yah, ka....
    adeknya juga pasti sayang bgt ma kamu...percaya itu

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah... terlahir kedunia ini dengan cinta mama
    lam kenal lagi...

    ReplyDelete
  9. pagi.... ika...

    harusnya bersyukur karena mendapatkan ibu yang tulus menyayangi walau tidak ada pertalian darah sekalipun. Alhamdulillah ternyata sdh menyadarinya,bisa dimaklumi sih sebab waktu itu usia kamu masih 17, mash nakal hehehhe
    segala kejadian dalam hidup ini adalah proses kedewasaan.

    jaaaahhh diriku ngoceh pagi-pagi.xiixixiix
    pagi juga ika...

    ReplyDelete
  10. @all: makasih semua..., btw,ini bukan kisah tentang saya, tapi curhatan teman yang saya tulis karna keinginan besarnya untuk berbagi...saya bersyukur orang yang menjadi ibu saya saat ini adalah ibu kandung saya.... dia mencintai saya dengan caranya sendiri...ibu tanpa syarat...

    ReplyDelete
  11. Aku kira t cerita mu. Adek nya baik, kapan aku punya adek kya dia? Ngook

    ReplyDelete
  12. setiap kali menyinggung soal ibu, saya selalu terharu...

    ReplyDelete
  13. Pagi2 jadi terharu gini :')..
    Saya jadi inget Ibu yg di rumah.. Kangeeeenn...

    ReplyDelete
  14. Puanjang....!!!
    baca dulu ahh!!

    ReplyDelete
  15. seorang ibu tanpa dipaksa untuk cinta kepada kita, dia akan secara alami mencitai kita apa adanya, bagaimanapun kita dan bagaimanapun jahatnya kita. cinta kita tak bisa dibandingkan dengan cinta beliau....jauh bgt

    mampir ke blog kami..

    ReplyDelete
  16. begitulah hendaknya manusia, saling sayang, saling bagi rasa, saling cinta, saling kasih

    damai di hati
    damai di bumi

    ReplyDelete
  17. hmmmhh,,,jadi mu peluk mama,, hehehehehhe
    like this ka,
    keep writing :)

    ReplyDelete
  18. wew jadi pengen pulang,
    kangen ibuu..

    nice share :)

    ReplyDelete
  19. cinta ibu memang tak kenal syarat dan sepanjang masa

    ReplyDelete
  20. @yudex : ayahnya ada sbnarnya..tapi saya gak di ceritain soal ayahnya (^_^)

    @iam: sy juga pengen punya adek... dr dulu.. tp kyknya dah dtakdirin jd anak bontot selamanya..

    @penghuni60: (^_^)

    @kedai kopi: betul, dan sudah seharusnya menjadi anak tanpa syarat...

    @shinta: thnks Shin, ayo segera peluk mama..(^_^)

    @hannin:jauh dari ibu ya say?? di tilpun dunk..

    @fanny:kasih ibu sepanjang masa.. apa kasih anak benar2 hanya spanjang galah???

    ReplyDelete
  21. Cinta seorang ibu tidak terukur,... meskipun cinta ibu pada seorang anak angkat.

    ReplyDelete
  22. ibunya baik sekali yahh ^_____^
    kalo mamaku suka marah tp ak tetep sayang mama hehe

    ReplyDelete
  23. kunjungan balik

    menyambut tangan untuk bersahabat

    ku follow ya

    follow back... (^__*)

    mau dong ada di Friends List-nya Sweety

    ReplyDelete
  24. Begitulah kasih sayang seorang ibu,. mantap grlz,.^^

    ReplyDelete
  25. Beliau tidak tau knapa dia tidak akan pernah bisa marah pada kita, wlopun mungkin marahnya itu sudah diubun2... hohohoh, mulianya sang Ibuuuuu......

    salam tuk mamanya nah Kak :)

    ReplyDelete
  26. wah jadi kangen ama ortu karena lama tak jumpa.oh iya sob follownya sukses.makasih dah follow dirumahku^_^

    ReplyDelete
  27. udah dipasang linknya

    nanti nongol paling atas jika update

    (^__*)

    ReplyDelete
  28. makasi mbak telah mengingtkan u/ slalu bersyukur dgn apa yg kita punya..nice post :)

    *gara2 dikomporin jadinya BW kesini de :p

    ReplyDelete
  29. Cinta tanpa syarat?? hmm...udah apa belum ya??

    ReplyDelete
  30. sore ika

    maaf tadi link di postinganPhotodex ProShow Producer

    http://belajar-tanpa-henti.blogspot.com/2010/04/photodex-proshow-producer.html?showComment=1270713147640_AIe9_BG5_QVpTl47nZ_M5NCGsoTKMFEpon_GXqKv_BpQG1n5_MUsSSyfrcWiBVqzsnTOS9go3TNidLxb91-iTDgYEBud1MJx5TAfrZTI7100OMXMRSwoCsKmS0YXQ2Fn89Yn6gjwuX79uidiYsIrO5cgm5A12JX3CGVapcbiKkxg0CtIvv5Scw1RP3uwPxeyUrAOeiY-1BuuKuRaKfgSALJl8FM6GOH2o703-gMTCQ-TBEjI-lVOpttgLHCSoBhrFtlHF1nr0B_2#c5669585396877384814

    buat download broken sekarang udah bisa di download...
    mari silahkan kalau mau download :)

    ReplyDelete
  31. wah wah . .pusing ngmongin cnta mah . . hehehe . .

    ReplyDelete
  32. hikz... terharu....

    Alhamdulillah
    oby bersyukur dengan keadaan oby saat ini

    ^_^
    nice post

    di tunggu yah kunjungan baliknyaa

    ReplyDelete
  33. menyentuh..sip banget pemaparannya...salam kenal...girl...semangat blogger..saya sudah pasang link blog ini di blog saya di blogroll sahabat-sahabat terbaikku...pasang link juga ya...untuk persahabatan,.,,,salam kenal,,.,sahabat baruku.,..

    ReplyDelete
  34. @setiawan: iyaa...meskipun tak memiliki hubungan darah.. ketika mencintai qta tanpa syarat.. dialah ibu qta..

    @ria: sama Ri, mama saya juga suka ngomel2.. tapi saya tahu dia sayang banget ma saya..

    @seiri: ok Sizt, thnks ya..

    @dv: hahaha.. akhirnya kamu ikut aliran sesat ya dev ..(^_^)

    ReplyDelete
  35. @matakakiku : yup..yup..thnkz..

    @diah: dah disampein salam nya Di, salam balik katanya, trus nanya..Diah sapa? kujawab:temen blogger ma.. mama blng: oww (smbil mnggut2)... sering jalan dan belajar bareng ya waktu kuliah? katanya lagi...trus kujawab: hehe..iya ma..jalan2 di dunia maya... wkwkwkw..

    @angger: yup2..thnks dah brkunjung

    @wi2t: anak tanpa syarat Wit, udah blum? hehe

    @akmal : hehehe (^_^)

    @oby: thnk u...ok..ok

    @tukiran: salam persahabatan juga... thnks ya..

    ReplyDelete
  36. WAW....kisah hidup yang sangat hebat dan menginspirasi. Kamu benar2 dikelilingi teman yang memiliki banyak cerita hidup yang hebat ya :D

    ReplyDelete

Terima Kasih sudah berKunjung ke Blog sayah..Silahkan dikomentari ya... thnk u...(^_^). salam Blogger..

You Might also Read

Related Posts with Thumbnails